secangkir teh tarik

…ya untuk diminum, apa lagi. mau?


Leave a comment

undepressured to “like” :)

Kemaren malam setelah sekian lama ngga menengok, saya sign in ke akun facebook. Sudah lama ini FB dicuekin, ditambah lagi apps di BB sudah saya asingkan dengan meng-hide dari tray. Abisan notifikasinya di email sering gengges deh ah. Sempat kepikir deactivate akun, untungnya (atau sialnya? :D) belum. Karena…

Kakak saya tercinta memaksa saya memberi jempol semua foto masakannya yang diunggah ke FB 🙄 🙄 .

Gara-gara beberapa hari sebelumnya dia mencuri liat saya lagi mengamati dengan khusyuk sebuah post blog yang berisi foto-foto kuliner. Foto-foto tersebut di-submit oleh para travel blogger untuk mengikuti Turnamen Foto Perjalanan.

Sekilas mengenai TFP, merupakan ajang sharing foto yang dikoordinir oleh Dina Dua Ransel. TFP ini temanya bermacam-macam, ditentukan oleh pemenang turnamen sebelumnya yang sekaligus akan menjadi host ronde tersebut.

Sebenarnya saya jarang tertarik dengan foto makanan. Kemarin itu saya klik satu-satu semua tema TFP, pas yang diintip oleh Kakak yang sedang duduk di sebelah adalah tema kuliner. Segera dari rasa ingin tau foto apakah yang saya lihat, berubah menjadi nada jeles ngga jelas.

Kakak (K): Aaaa…kamu aja ngga pernah “like” foto makananku di FB

Saya (S): …

K: Padahal fotoku lebih bagus daripada yang foto balung (tulang) tadi

S: …

K: Pokoknya kamu harus “like” fotokuuuuh…

S: (pengsan)

Setiap hari, tiap saya duduk di depan di-PC, dia tagih aja dong. Sepertinya hidup saya ngga akan dibiarkan tentram sebelum saya memenuhi permintaannya. Akhirnya saya berkenan sign-in FB. Bikin pangling ya sekarang tampilannya, ada banner dan timeline segala. Setelah saya lihat-lihat, alhamdulillaaaah cuma 10 pics yang perlu dikasi jempol ahahaha…

Foto-fotonya sendiri ngga jelek kok (regardless kualitas gambarnya ya). Kakak masak/bikin sendiri dan niat banget menghiasnya sampe kadang khusus beli garnish.

oxtail with blackpepper caramel sauce

ma’suba

nasi liwet

tekwan

es goyobod

hubby-nya menamakan “es jatuh cinta”
errr … owkaay…

brownies kukus ketan hitam

sate ikan senapelan

salad buah

…dan beberapa yang pernah saya coba rasonyo lezzatto. Katanya sih karena bikinnya pake cinta 😉

Udah yaaaa…jempol saya balikin dong *abis ini tutup akun FB*

Mission accomplished. Atau begitu yang saya pikir.

Sementara itu —> si Kakak lagi nungging ngambil gambar masakan terbarunya: Mie Celor.


3 Comments

Rinai, Catatan Perjalanan di Tanah Para Nabi

Prolog dulu ah…

Apa yang mendorong seseorang memutuskan membeli novel? Kalo saya, salah satunya adalah penulis novel tersebut. Saya penggemar Sinta Yudisia sejak novel “Lafaz Cinta” (sejak covernya belum ada tulisan “best seller”) dan sering menjadi pembeli awal karya-karyanya. Tidak semua novel Sinta saya suka genre-nya. Bukan berarti ngga bagus, ini hanya soal selera. Toh kepiawaian Sinta dalam menjalin cerita tidak meluntur di bermacam tema. Riset mungkin merupakan kunci dari kedalaman materi yang dibawakan dalam karya-karyanya.

Cerita boleh jadi fiktif, kali ini Sinta membawakan tema dengan setting berdasarkan pengalaman pribadi melangkah di bumi para nabi, tambahkan dunia psikologi yang juga dekat dengan kesehariannya.

Disclaimer, saya jarang bikin review. Di blog ini pun baru ada dua, sangat sedikit untuk ukuran orang yang mengaku suka membaca novel. Dibilang review, hmmm…bukan kapasitas saya mengkritisi ini itu, jadi tulisan ini hanya sebuah ekspresi subyektif semata.

***

Diceritakan dari sudut pandang orang ketiga dan pertama.  Dengan cara bertutur epistolari (novel jenis ini yang pernah saya baca adalah teenlit “Princess Diary”) dan berbingkai (seperti “Supernova: Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh”) (istilah ini baru saya kenal dari blog penulis). Adalah Rinai Hujan, sang tokoh utama yang memiliki nama unik, akan membawa pembaca bertualang bersama rombongan relawan kemanusiaan menembus blokade Gaza, tertahan berhari-hari di Kairo dan perbatasan. Bergaul dengan sesama relawan Indonesia yang baru ditemui, berjuang mengepaskan diri dengan individu-individu dari tim lain. Bahkan berkonflik dengan timnya sendiri yang telah membawanya jauh dari tanah air.

Selama ini situasi di Gaza tidak pernah benar-benar saya pahami. Ya, saya tau negeri itu berkonflik. Maka yang terimaji di benak adalah baku senjata tanpa henti. Tidak terbayang ada situasi dimana mata uang negara sendiri dilarang beredar, namun aktivitas masyarakat —termasuk jual beli— berjalan normal. Dimana untuk memasuki perbatasannya saja tanpa kepastian akan diijinkan oleh otorita (saya bahkan tidak tau otorita ada di tangan Israel, Palestina atau pihak ketiga?), di sisi lain para relawan diajak berwisata.

Rinai ikut serta sebagai bagian dari tim psikolog, sehingga tentu saja novel ini akan menyinggung istilah-istilah dan pengetahuan yang berkaitan dengannya. Untuk bagian ini saya agak bosan karena otak saya yang cetek enggan diajak berpikir ilmiah :mrgreen: . Mimpi Rinai tentang ular saya pikir digambarkan terlalu berlebihan, walau menjelang akhir Sinta mempunyai maksud mengapa demikian. Ada juga informasi remeh yang saya anggap cukup menarik, misalnya ternyata mengganti alat tes itu memerlukan proses panjang, tidak bisa sembarangan, pun alat tes tersebut tidak sesuai dengan kondisi testee (h. 205). Konflik cerita yang dibangun masih berkaitan dengan dunia psikologi, bisa dipahami pembaca se-awam saya dan menurut saya sangat menarik.

Beberapa hal yang saya catat dari novel ini, yaitu:

Tokoh dengan peran antagonis digambarkan dengan wajar, tak ada yang berlebihan bagai kisah syitnetron. Selalu ada yang bisa dipelajari dari karakter tokoh. Nora sudah pasti bukan favorit saya, saya tetap suka argumennya di h. 271 *walaupun itu kutipan juga, tapi kan tapi kan saya baru pertama tau di novel ini, jadi terkesan banget gitu loh*. Ia punya argumen kuat dalam mempertahankan apa yang diyakininya. Perdebatan dengan rekan seprofesinya itu sebenarnya banyak kita jumpai di realita.

Demikian pula tokoh protagonis, Rinai sendiri tidak selamanya diceritakan berhati putih-putih melati tentu disayang mama. Latar belakang keluarganya, memang bukan tentang kekerasan fisik, saya pikir kekerasan psikis (dalam hal ini patriarki yang kelewatan) pun bikin nyesek. Dalam penceritan latar belakang Rinai kelihatan alur cerita yang bergantian antara kronologis dan kilas balik.

Setiap kalimat punya makna. Misalnya deskripsi bahwa Rinai memindahkan diam-diam aksesori di genggamannya ke saku jaket (h.135). Apa maknanya pada cerita secara keseluruhan? Entahlah, mungkin tidak ada secara langsung. Saya hanya menebak bahwa itu reaksi kecil seseorang di dunia nyata terhadap sesuatu, bisa juga untuk memperjelas karakter tokoh. Uhmmm…gimana ya ngejelasinnya. Maksud saya gini, saya sering menceritakan sesuatu (dan kemungkinan kalo saya bikin cerpen atau novel) langsung yang penting-penting aja, tidak mempedulikan hal-hal kecil yang akan sangat wajar di realita. Nah, disini Sinta tidak melupakan detil semacam itu, tanpa menimbulkan kesan bertele-tele.

Selalu ada romantika dalam karya Sinta yang mengambil porsi yang pas. Tidak menye-menye menghabiskan seluruh cerita, namun tidak pula tempelan semata. Saya selalu jatuh cinta pada tokoh lelaki rekaannya (belum move on dari Takudar dan Salim ehhe..). Mungkin karena penggambaran yang ”…teguh dalam pendirian, menjadi qawwam dalam keluarga dan kelompoknya, berdiri di depan, mengambil keputusan…”. Gimana ngga meleleh coba yaaaa. Benar-benar saya persis seperti kata hati Rinai ”pemuda itu membuatnya ingin bersandar, berguru, bertanya tanpa rasa cemas”. Awwww….manis.

Hal lain:

Sering merasa upacara bendera itu seremonial, cuma berlelah tanpa makna? Palestina akan menggugah kesadaran, bahwa sementara Merah Putih bebas berkibar di seluruh teritori Indonesia, ada negara yang hari gini masih pake “hari gini”  memperjuangkan tegaknya bendera di negeri sendiri. Kerap mengeluhkan kondisi negara begini begitu penuh cacat cela? Rakyat Palestina tidak sempat mengeluhkan keadaan negara mereka karena “kehidupan mereka sedikit lebih cepat dari kehidupan lain di belahan bumi lain”. Jika kita sedang berada di luar lingkaran, kita akan lebih obyektif memandang segala sesuatu. Lebih bersyukur akan apa yang dimiliki atau tidak dimiliki.

Ini memang bukan genre favorit saya yang sangat menyukai kisah klise berakhir bahagia. Karena kisah di novel happy ending memang harus berakhir, sedangkan di realita buku akan ditutup jika kita mati. Maka novel ini lebih terasa manusiawi dan nyata. Hidup terus berlanjut dengan segala konflik di dalamnya. Novel ini akan berakhir sekaligus berlanjut dalam perenungan.

Oiya satu lagi. Mengingat sebagian royalti novel ini akan didonasikan untuk membantu rakyat Palestina sedangkan di toko buku besar novel ini jarang terlihat, saya mau info tak berbayar (itu juga kalo ada yang baca postingan ini :D). Novel bisa order di Toko Buku Afra.

Eh lha? Postingan kok jadi panjang banget gini yak.


Leave a comment

lupa tesis

Dulu waktu pindahan ke Jakarta, saya titip sana-sini barang seabreg-abreg hasil ngekos 9 tahun sebelum kemudian dikirim ke rumah emak di kampong. Beberapa bulan ini kepikiran mau cari dokumentasi skripsi dan tesis saya. Dan ternyata saya ngga punya! Komputer yang menemani penggarapan tulisan-tulisan itu sudah dikanibal tanpa sempat pindah data, CD tesis harusnya ada namun entah dimana. Skripsi malah ngga ada sama sekali softcopy-nya. Hardcopy pasti ada, di gudang yang saya males banget bongkar. Beberapa kali nyari barang di sono, belum pernah ketemu tuh jilidan skripsi dan tesis.

Trus ada apa ribet-ribet gini? Jadi saya lagi mikir, kalo-kalo ditanya orang dulu S2 tesisnya tentang apa (siapa yang mau nanya yaaaa?). Saya ngga inget sama sekali judulnya cobaaaa.

Apa ngga bikin curiga yang nanya, jangan-jangan saya beli gelar atau tesisnya dibikin orang lain.

Enak ajah. Saya ngga mungkin beli-beli gituan karena….sayang duitnya geeelaaaa…mending ngerjain sendiri. Dan saya sebenarnya lanjut S2 bukan karena kemauan sendiri jadi ngga butuh gelar-gelaran juga. Tampak ngga bersyukur ya, sementara orang lain pingin sekolah whew!. Kuliahnya sih asik, ngga suka aja bagian harus nulis tesis ini.

Penasaran kemarin saya google nama saya dan “tesis s2” sebagai keyword. Untungnya perpus kampus ada katalog onlen. Eeeeh tesis saya ada lho.

bangga ih *norak*

Terus saya baca dong untuk refresh.

Ngga ngertiiii…. Ini saya dulu nulis apaan ya.

Antara eforia norak nama saya ada di google dengan pusing baca tulisan sendiri, maka saya membagi perasaan saya dengan mengirim sms ke sahabat sekaligus teman kuliah dulu. Begini percakapan kami:

Si Norak (N): Mel, aku lagi cari tesis ku. Nemu di katalog onlen kampus. Trus aku baca-baca abstract-nya. Aku ngga ngertiiii, udah lupaaaa…hahahah  –> ini ketawa setress

Temennya si Norak (M): Ih rajin. Kalo aku sih males, udah selesai.

N: Wooo…bukan rajin. Just in case ditanya orang aku dulu nulis apa untuk tesis.

M: Aku juga dah lupa mbak…judulnya aja ngga inget. Padahal kalo mewawancara orang suka aku tanyain skripsinya.

N: Tuuh kan. Trus kalo kamu sendiri ditanyain gitu, neranginnya gimana?

M: Neranginnya? Sok tau aje. Palingan yang nanya juga ga ngerti. Kayak Ketua Prodi kita dulu. Tesisku sampe dibanting sama dia.

N: Hah masa sih? Maksudnya Pak I?

M: Bukan Pak I. Duh sapa sih namanya….  Pak J! Iya dibanting soale dia ngga ngerti tesisku kali. Trus pas mau tandatangan, dia suruh ikutan lomba di Medan. Udah gila kali ya tuh si bapak, wong yang nulis aja ngga ngerti apa yang ditulis.

N: Hahahaha hasyeeem… eh Pak J yang mana sih? Lupa aku.

M: Dr. J tuh yang direktur program, yang lucu dan suka garuk-garuk kepala tuh

N: (baru ngeh) Hahaha…inget inget aku

M: Inget kaan… yang jamnya kalah bagus sama sopirnya gara-gara sopirnya jual tanah trus lebih tajir dari dia hahahah…

Apa laaah ini. Ngomongin tesis kok nyambungnya ke sopir ketua program studi. Sungguh percakapan tidak ilmiah.

Agak lega karena bukan cuma saya yang nggak ngerti tulisan sendiri. Yippi yippi yeye…

Bukan berarti ngga ngerjain sendiri itu tesis dengan alasan-alasan di atas tadi. I just didn’t put my heart into it.

Pada dasarnya saya ngga suka penelitian empiris. Namun studi kasus di suatu perusahaan juga bukan pilihan saya. Maka saya pilih topik yang datanya gampang dicari, variabelnya bisa dijelaskan dengan sederhana dan literaturnya mudah dipahami oleh otak yang ngepas.

Apa semuanya jadi mulus-mulus aja?

Woooo…sampe mual-mual saya belajar aplikasi Eviews untuk menggarap statistiknya. Belum lagi kalo data yang diambil ngga tepat. Cara menginterpretasi hasil statistik juga bikin mabok.

Begitu dinyatakan lulus, secepat mungkin saya tutup buku dan melupakannya.

Peringatan: Jangan ditiru kelakuan seperti ini di kampus :).


Leave a comment

you’ll get more than overtime

Di post-post terakhir ini lagi sering saya pengen nulis sesuatu setelah membaca blog atau twitter seseorang 🙂

Nah kemaren saya liat hestek #lemburgokil yang dibikin oleh @pervertauditor (maap ya ngga mention di-twitter karena saya ngga follow) yang isinya pose-pose auditor lagi lembur. Aeeehh… langsung deh teringat bitter sweet memories sewaktu masih menjadi staf audit sebuah KAP. Penampakan meja kerjanya itu lho -yang penuh dengan kertas kerja, ordner, belitan kabel, deretan laptop- sungguh membangkitkan nostalgia (eh kayak kenal karpet motif kue lapis itu). Dan ekspresinya….uwuwuwu… familiar banget tuh pastilah pada mabok excel kan? kan?

Aaaah…masa-masa itu….

Auditor memang makhluk aneh. Sudah tau kalo lembur itu suatu kemestian sedangkan pulang tenggo adalah aib. Overtime nonstop 20 jam (pasti ada istirahat/tidur kok, di kantor tapinya. trus lanjut for next round and round and zzz….). Sering jambak rambut sendiri karena ga ketemu selisih perhitungan. Eee mukanya masih aja keliatan bahagia difoto. Makanya para mahasiswa akuntansi punya persepsi salah, yang membuat mereka ingin juga menjadi auditor.

Speaking of which…

Ex-kantor saya termasuk Big Four dan satu lokasi dengan bursa efek, sering menjadi tujuan mahasiswa akuntansi study tour. Ada waktunya para mahasiswa itu diajak keliling staff room (yang mana kubikelnya ngga menutup muka dan badan, loss aja gitu), sementara para auditor sedang berada di situ. Kadang saya punya ide untuk melakukan hal-hal ekstrem supaya para mahasiswa itu tercerahkan. Misalnya:

Angkat ordner/bantex ke atas kepala, lalu jatuhkan. atau

Balas ngeliatin para mahasiswa itu dengan pandangan kosong dan jauh sambil iris-iris nadi *tambahkan senandung lagu film horor mandarin (ngga tau judul dan liriknya)*. atau

Tiba-tiba loncat keluar jendela lantai 7 (harus dengan kekuatan penuh, karena kacanya tertutup dan tebal).

WOOYYY!!!

😀 😀 😀

Tentu saja itu hanya ada di imajinasi liar saya. Saya seperti orang normal lainnya akan menunjukkan sikap serius berkonsentrasi menatap laptop (entah apa yang dilihat, ngga harus kertas kerja kan) untuk menggambarkan suasana kerja auditor yang penuh dengan aura ke-keren-an. Sebenarnya sikap seperti itu juga untuk menyembunyikan kantung mata karena beberapa hari ngga tidur dengan pantas.

Overtime nonstop gitu, sempat mikir ngga sih “what the hell am doing heeeree…I don’t belong here yea yea yea ooooh” *lolongan Radiohead*

Bisa jadi ngga sempat mikir. Sibuk footing ciiin… Begitu masa-masa suram berlalu, sudah lupa dong keinginan resign. Apalagi terima OT dan reimburse-an kenceng, trus lanjut cuti liburan. Nah lho!

Hihihi… Ngga pait-pait melulu ah. Ada manisnya juga kok.

Semanis persahabatan Harry, Ron dan Hermione.

There are some things you can’t share without ending up liking each other, and knocking out a twelve-foot mountain troll is one of them. – The Philosopher Stone

Bermula dari menghadapi lembur bersama-sama, saya menemukan “Ron dan Hermione” saya. Teman satu tim bagaikan sodara. Dalam 24 jam, tiga perempat waktu melek dihabiskan bareng mereka. Kantor/client site adalah rumah. Barang-barang pribadi macam bantal duduk dan slipper pun bisa pindah dari kamar ke kubikel demi mendukung kenyamanan lembur. Sesuram apapun masa itu, rasanya jadi lebih ringan dengan adanya teman-teman senasib.

Saya dan 2 orang teman tim pernah kabur dari client site untuk nonton midnite, kelar nonton lanjut kerja lagi. Pernah juga supaya ngga buang waktu pulang ke rumah trus ke kantor lagi, cari hotel murah dan dekat untuk istirahat rame-rame. Perasaan sudah ga enak pas mau masuk lobby, orang di jalan dan resepsionisnya ngeliatin heran. Lobi remang-remang makin bikin curiga. Waktu liat kamar dan kamar mandinya (dengan dinding kaca tembus pandang ke tempat tidur)… sah sudah kami mencicipi pengalaman tidur di hotel jam-jaman. Hiahahahaha…aiiiiibbb…

Tapi yang konyol-konyol gitu jadi  seru untuk diceritakan lagi sambil cekikikan. Bikin kangen pengen ngumpul-ngumpul kalo sudah resign. Kebanyakan ex auditor mengakui, keakraban kayak gini jarang ditemui di lingkungan kerja lain.

Satu nih yang bikin saya sebel: belum pernah ditugaskan ke luar kota. Padahal auditor itu salah satu profesi yang peluang jalan-jalan terbuka luas. Tiga tahun lebih ngga pernah keluar dari Jakarta-Bogor-Tangerang. Pedih banget ngga sih sih sih.

Bagi saya, KAP kantor saya itu seperti ex pacar yang baik hati. Namanya pacaran, hubungan kami ada ups and downs-nya. Berantem-berantem dikit ada lah, tapi tetap sayang-sayangan juga. Akhirnya setelah hampir 4 tahun bersama kami pun berpisah jalan karena ngga disetujui orang tua. Sedih karena putus tentu dong, bukan berarti pengen balik lagi. Biar jadi kenangan aja, kami tetap bersahabat. Boohooo…kayak jawaban diplomatis seleb di impotenmen infotainment.


Leave a comment

am i a travel snob?

Alkisah suatu hari seorang pengangguran nyangsang di sebuah blog. Karena ia adalah seorang full time blog reader (bentuk halus dari ngga-ada-kerjaan-lain) maka ia membaca semua post blog dari depan sampe belakang. Yes si blog reader itu saya sedangkan yang punya blog adalah seus Leija. And I lurrve her witty writings ♥.

Naah sering dong ketemu tulisan yang bikin pengen ngangguk-angguk stuju “eh aku juga lhooo”. Seperti post blog yang ini. Jadi pengen cek ricek diri sendiri dong berdasarkan tip how to be a travel snob yang diramu oleh seus Leija (baca post blog aslinya di link sebelumnya ya)

Call Yourself A Traveler, Not A Tourist

Baru tip pertama sudah bingung mau contreng yang mana. Belum berani nyebut diri sendiri traveler soalnya. Wong track record jalan-jalan masih secimit. Yang kebayang traveler tu semacam @TrinityTraveler. Trus saya masih kentara banget bingung kalo lagi jalan-jalan. Penampilan juga masih keliatan turis dengan kamera siap di tangan. Nggak ada ciri-ciri penampilan traveler yang keren banget atau gembel sekalian.

Etapi saya menolak ah disebut turis dengan ciri-ciri hobi teriak-teriak, gampang panik dan foto-foto ngga pake tata krama. “Ih itu sih turis banget.. norak..” *memandang hina dari atas ke bawah* —> songong minta dikeplak

Jangan Keliatan Panik Kalo Nyasar

Pas jalan di Jepang, saya lebih suka baca buku panduan or baca peta dulu sebelum nanya orang, biar kata keliatan banget nyasar. Sedangkan travel buddy saya @vyisipie lebih suka langsung cegat orang lewat. Kalo jalan-jalan di Indonesia mending langsung tanya orang aja.

Namun pun kemampuan untuk tidak panik ini belum teruji di medan yang lebih berat, sistim transportasi berantakan atau negara dengan penduduk yang sama sekali tidak berbahasa enggres.

So check/uncheck?

Sejarang Mungkin Foto Muka Sendiri

Check.

Awal-awal senang jalan-jalan suka juga foto diri sendiri sebagai pernyataan “been there”. Lama kelamaan saya lebih suka mengabadikan objek wisatanya karena eneg dengan muka sendiri kalo saya minta fotoin terus gantian dengan travel buddy jadi lama banget jalannya ngga maju-maju. Belakangan malah jarang ngambil foto, lebih pengen menikmati momen berada di tempat itu. Mungkinkah ini pertanda saya telah naik kelas menjadi traveler?

Ngga enaknya, pas balik trus liat-liat hasil jepretan trus ngiri deh kenapa foto travel buddy saya lebih banyak ya 😀

Kenalan dan Nongkrong Sama Orang Lokal

Uncheck. Belum PD.

Waktu di Tokyo nginap di hostel yang kalo malam hari tamunya ngumpul di living/dining room. Tamunya kadang nge-gap, yang Asian ngumpul sesama Asian. Staf hostelnya yang ramah akan bertindak sebagai ice breaker. Saya ikut duduk-duduk juga tapi jarang nimbrung obrolan kalo ngga ditanya duluan. Sekalinya ngobrol eeh sesama Indonesian juga.

Believe That Tour Groups Are The Devils’ Creation

Saya mengamini seus Leija di sini. Saya pake tour group waktu trip ke Eropa Barat dan BKK-SIN. Ngerasain bagian ngga asik dari tour group itu kaya diseret ke sana ke mari, itinerary padat,  jadwal ketat. Ngga puas lah liat-liat. Ngga sempat juga menghayati excited-nya berada di tempat asing, tau-tau momennya lewat ajah. Begitu mau diceritain ulang, susah mengingat detilnya. Ditanya gimana prosedur bikin visa Schengen or UK? Ya kali saya tau. Beh.

Tapi e tapi bagian cihuy marihuy nya, dua kali ikut tour group tersebut saya ngga keluar duit pribadi (kecuali buat uang saku), dapat akomodasi nyaman, pesawat full board (yang trip ke Eropa dikasih kelas bisnis, alhamdu? lillaaaah) dan ga pusyiang soal makanan. No complaint huhuy 🙂

Pengalaman ngatur trip sendiri waktu ke Lombok dan Jepang. Berbulan-bulan sebelumnya sudah rempong booking penginapan, mempelajari rute transportasi, baca-baca review tempat wisata, koordinasi ke travel buddies. Mengalami nyasar, bagasi hilang, geret-geret koper, turun naik transportasi umum. Kadang capek ngurus persiapannya juga perjalanannya. Begitu terlaksana dan semuanya (hampir) on the track sesuai itinerary oh bahagianyaaaaa… Banyak banget cerita ngga cuma tentang tempat wisata, namun tentang perjalanan itu sendiri. Ini lah saat saya merasa naik pangkat dari turis manja menjadi the real travel snob *congkak hidung mendongak*

Pernah juga trip ke Jogja ngga ngatur apa-apa kecuali penginapan karena sudah hapal kotanya. Di sini saya dan travel buddies menerapkan prinsip luntang lantung. Jalan ngga ada tujuan, tanpa itinerary. Sementara jalan kalo ada yang menarik ya langsung didatangin aja.

Believe That Shopping Are The Devils’ Activity

Ahaa! Super check.

Waktu ke Paris, alokasi waktu di Gallery Lafayette adalah 4 jam! Aiiih jengkel ‘kali sayanya. Mau jalan sendiri, mak suri orangnya ngga avonturir. Ngga berani jalan-jalan kalo ngga ada tour guide-nya. Beliau yang ngga berani, saya kena juga ngga boleh pergi-pergi sendiri. Jadinya selama 4 jam naik turun lantai mal ngga jelas sebelum akhirnya terdampar dan ketiduran di salah satu kafe di dekat mal. Kejengkelan terobati ketika malamnya ditawarin nonton kabaret Lido yang ngga ada di itinerary hihihiy…

Soal oleh-oleh, saya senang bagian ngasi oleh-olehnya. Seneng liat orang-orang yang nerima ngerasa diperhatiin dan dianggap penting. Tapi ya tapi itu tadi…saya ngga suka banget bagian belanja oleh-oleh itu, mikirin beli apa yang cocok dan sesuai bujet biar semua orang yang penting bagi saya dapat semua. Tampang saya bisa keliatan tertekan banget deh. Plus ngantuk.

Untuk diri sendiri, saya cukup menghadiahi pin dan magnet kulkas. Bawanya ngga repot. Pin nya saya tempel di kain kayak selempang kecakapan pramuka. Magnet kulkas karena belum punya kulkasnya jadi disimpen dulu.

Jadi walo sikap saya jelas tidak menyukai berbelanja selama travelling, kenyataan ngga bisa menghindari kegiatan satu ini.

Nggak Sekali-kali Bawa Sambel, Kecap, dan Abon Saat Bepergian

Check.

Alasannya dangkal: ga mau repot. Ngga suka bawa bagasi berat-berat.

Di Jepang saya pusing juga jaga makanan. Pengennya menemukan resto halal seperti rekomendasi di buku. Apa daya seringnya pada jam makan siang saya berada jauh dari resto halal tersebut. Akhirnya cuma makan onigiri pagi dan malam.

Sedangkan kalo ikut tour group, perut terjamin kenyangnya dan diusahakan no pork (ngga jamin utensilnya pork free dan ayam/sapi disembeleh pake bismillah ya). Di Eropa dicarikan resto Cina, sekali di Paris makan masakan Thai, sekali di Amsterdam makan masakan Jawa Timur. Di Thailand, oleh travel agent dicarikan masakan sea food atau resto muslim (yang aduhai jauhnya dari pusat kota tapi juga aduhai syedapnya).

Nggak Pergi ke Negara/Kota Tujuan Standar. Kalopun Harus, Nggak ke Tempat Standar Wisatawan

Uncheck deh.

Masih standar yang turistik baik kotanya maupun tujuan wisata. Belum minat ke Vietnam, Kamboja atau India. Juga carinya yang gampang maskapai penerbangannya, jadi niatan traveling ke Filipina yang pantainya tampak tempting pun belum ada.

Di dalam negeri, pengen sih ke Manado atau Ambon. Masih berat ngeluarin duit. Mahalnyoooo…

Tampil Segembel Mungkin di Pesawat (Kalau Naik Long-Haul Flight a.k.a. Penerbangan Jarak Jauh)

Aye. check.

Dulu masih jarang naik pesawat, sekalinya bepergian dandannya dikeceh-kecehin (walopun keceh itu hanya perasaan saya saja. Orang yang ngeliat, ya ngga tau yaaa).

Waktu sudah sering bepergian walopun penerbangan jarak pendek (dalam negeri), saya berpakaian senyaman mungkin, cenderung pakaian sehari-hari malah. Celana kain (ga pernah bawa pakaian berbahan jeans karena berats), sendal teplek, kaos lengan panjang, jilbab segi empat (ngga mau pake bergo yang lebih praktis karena bentuk muka ga cocok). Tambahannya cuma jaket karena ga tahan dinginnya AC. Gembel banget sih engga ya, pastinya less rempong ga pake akesori segala.

Saking nyantenya, pakaian yang dibawa ke tempat tujuan sama aja kayak yang dipake di pesawat. Yang berakibat salah kostum waktu nyampe di London dan Osaka. Kirain sudah masuk musim semi cuacanya hangat. Taunya masih dingin aja terutama untuk ukuran anak tropis berbadan tipis.

Jadi kesimpulannya?

Saya adalah turis 😀

Mau jadi traveler atau turis, yang penting kan hati riang…


Leave a comment

Tentang Sahabat

Jadi pengen nulis setelah baca sebuah blog posting ini. Omong-omong tulisannya bagus. Saya senyum-senyum baca kejelesan si penulis akan tokoh Kugy si agen neptunus yang legendaris itu.

Saya tertarik dengan poin 3 dari tulisan tersebut, bahwa

Punya sahabat itu heavennya dunia. Punya sahabat dari kecil itu susah banget pertahaninnya, apalagi kalau udah kepisah jarak.

Saya jadi merenung.

Dulu saya punya teman kecil. Namanya Mimi. Kami bersekolah di TK yang sama dan kemudian berteman, simply karena rumah kami bersebrangan. Saya kecil jarang keluar rumah dan tidak pandai bergaul (sampe sekarang juga sih). Mimi adalah teman pertama setelah kakak saya yang waktu itu baru ada satu (karena kakak tertua diangkat anak dan adek belum lahir).

Saya ingat ia berlari ke rumah saya ketika dia habis dipukul oleh ayahnya karena ngga mau ngaji. Begitu sampe di rumah saya, sayanya sedang belajar ngaji dengan guru.

Saya juga ingat ia menunjukkan mainannya berupa kantung karet yang diisi air. Saya menganggapnya lucu. Ia pun memberi satu. Di rumah saya tunjukkan mainan baru itu ke nyokap. Muka nyokap keliatan kaget ngeri tapi berusaha tenang saat bertanya dapat darimana. Saat itu saya tidak terlalu memikirkan keterkejutan nyokap saking senangnya. Saya simpan baik-baik mainan itu. Keesokannya hari sepulang sekolah, mainan itu lenyap. Nyokap bilang sudah dibuang. Saya sedih.

Setelah dewasa, saya baru sadar mainan itu sebenarnya apa.

Eh hlhoooh kok malah jadi cerita aib nasional.

Mimi memang suka berbagi. Selain mainan itu, dia sering menyelipkan benda-benda kecil di kantong tas saya seperti amplop fancy dan buku saku telepon. Seperti kebanyakan anak perempuan, saya suka benda lucu dengan warna warni cerah.

Saya lupa tepatnya apa yang membuat kami berhenti akrab. Mungkin ketika kelas 5 atau 6 SD ya. Selama ini kami selalu duduk berdua di kelas. Ketika hari pertama di kelas baru, saat itu dia tidak masuk karena sakit. Seorang teman sekelas bertanya dengan siapa teman sebangku saya tahun ini. “Pasti Mimi, ya”, tebaknya. Entah motif apa, saya menjawab dengan sok aksinya, “Ah nggak kok. Masa sama Mimi terus sih, yang lain dong.” Keesokan hari dia sudah masuk kelas. Saya mengajak dia duduk bersama. “Kamu kan udah punya teman baru”, sindirnya. Oh ow. Saya terdiam. Akhirnya tahun itu saya duduk dengan teman lain, dia pun begitu. Duh pengen tutup muka kalo ingat ini.

Kami selalu bersekolah di tempat yang sama sampai SMU, namun jarang sekelas. Dia tumbuh menjadi remaja luwes dan sosialita, sedangkan saya socially awkward still. Lingkup pergaulan kami sudah berbeda. Dan kami menjadi asing. Hanya bertegur sapa biasa, tidak pernah lagi berkegiatan bersama.

Saya sendiri di setiap tingkatan kelas dan saat kuliah selalu punya geng yang berbeda. Saya dan geng akan berteman sangat akrab sepanjang tahun, kemudian menjadi tidak dekat lagi ketika sudah berpisah kelas/sekolah/daerah.

Saya tidak pernah menganggap diri sendiri sahabat yang baik, karena ignorance dan ketidakmampuan saya menjaga silaturahim. Entah kenapa, saya tetap saja dikaruniai teman-teman yang sangat baik. Some left their footprints in my heart.

Iin, teman kos di Jogja yang saya anggap adik. Ceritanya bisa temenan, waktu itu semua anak kos diminta pindah oleh ibu kos karena rumah kos akan direnovasi. Saya sedang skripsi sedangkan Iin akan mengikuti ujian akhir SMU, sama-sama butuh cepat tempat baru. Saya dapat kos duluan, terus Iin minta diajak. Di kos baru tentunya kami jadi sering bareng, padahal sebelumnya sudah ngekos selama 3 tahun ngga pernah akrab.

Iin pernah melayangkan sms protes (yang bikin saya ketampar banget banget) bahwa saya tidak punya waktu untuk mengobrol. Dan karenanya lama kelamaan dia ngga tau apa yang mau diobrolin dengan saya. Waktu itu saya sedang menjadi kacung firma yang setiap hari berada di tempat kerja selama minimal 13 jam. Pulang-pulang sudah kelelahan dan ingin sendirian. Perjuangan berkarir di Jakarta menjadikan kami berjalan sendiri-sendiri walau berada di kota yang sama.

Hmm…nulis ini jadi pengen ke Jogja for the sake nengokin Iin. Weekend cukup lah ya waktunya. Iin sekarang sudah punya sepasang putra putri yang belum pernah saya tengokin.

Okeee..tampar saya sekaraaang…

Mel, teman kuliah. Waktu dulu sekelas Mel sudah punya teman, sedangkan saya menjalin pertemanan dengan yang lain. Kemudian kami berempat menjadi sering bersama-sama termasuk untuk kerja kelompok. Saya dan Mel menjadi lebih akrab ketika sama-sama merantau ke Jakarta (sedangkan kedua teman kami kembali ke daerah masing-masing). Di Jakarta, kami tidak satu kos. Sebenarnya kos kami berada di jalan yang sama, tapi kami tidak sering bertemu. Saya sering pulang kerja malam sekali. Mel kadang-kadang juga, dan wiken ia sibuk dengan kegiatan gereja. Sekalinya ketemu kami pasti heboh cerita-cerita penting ngga penting.

Mel ini sering merasa dirinya ngga pintar. Mungkin karena ia mengukur secara akademis melalui IPK. Di luar anggapan kemampuan akademisnya sendiri yang menurut saya ngga penting setelah masuk ke dunia kerja, Mel itu wise banget. Dia sering punya sudut pandang unik yang tidak pernah terpikirkan oleh saya. Ia juga punya standar etika kepantasan purba yang biasanya hanya dimiliki mamak-mamak.

Dari Mel, saya mencontoh untuk mau repot mikirin apa yang disenengin orang yang akan dikasih kado —satu alasan kenapa saya sering males beli kado dan oleh-oleh. Mel tipe orang yang kalo sedang jalan kemana gitu, trus dia liat suatu benda dan akan berpikir “si anu pasti suka ini”. Dia punya naluri mengurus orang. Kalo saya sakit dan minta tolong dibelikan maem, bukan cuma dibelikan maem. Mel akan membalur badan saya dengan minyak angin, persis kaya mamak-mamak ngurusin anaknya. Padahal ia lebih muda dua tahun.

Setelan mukanya tuh judes banget, anehnya auranya curhat-able. Teman-teman kuliah kami dulu senang curhat ke dia. Padahal untuk beberapa orang tertentu ia sebenarnya tidak berkenan dicurhati —apalagi dari cowok berpenampilan gahar, ga pantes cyiiin— tetap aja si curhatman ngga peduli. “Kenapa gue siiih….”, keluhnya selalu. Hihihihi…

Sayangnya sekarang ia sudah pindah kota karena penugasan kantor. Waktu dia pindah, rasanya sedih banget. Gimana ngga, Mel adalah teman seperjuangan dalam usaha menaklukkan kota Jakarta. Selama ini walo sekota jarang ketemuan, paling tidak saya tau dia hanya berjarak 5 menit jalan kaki.

@vyisipie, eks teman kantor. Travel buddy saya. Usianya lebih muda tujuh tahun tapi saya sering merasa terintimidasi dengan ke-kolerik-annya. Not in bad ways, tho. Kami dekat karena dulu sering satu tim audit. Memang kalo hampir tiap hari menghabiskan minimal 13 jam bersama-sama, rekan kerja kayak keluarga, kantor kayak rumah. Sesama kacung akan membentuk semacam aliansi. Capek seneng bareng-bareng. Makanya walo sering memaki-maki ritme kerja di firma itu, kebanyakan eks karyawan-nya merasa tidak menemukan pertemanan yang sama akrabnya di kantor mereka yang baru.

Yang saya kagumi dari @vyisipie, ia tidak ragu menyatakan pendapatnya. Pernyataannya hanya diakhiri dengan titik. Kalopun kemudian keyakinannya terbukti salah atau tidak tepat, ia tidak malu. Saya sendiri sering merasa tidak yakin, malu kalo yang saya omongkan salah. Biasanya saya akan mengembel-embeli pernyataan saya dengan berkata “kalo ngga salah lho ya…” untuk mengantisipasi agar tidak disalahkan.

Ia tidak canggung berbicara dengan orang yang lebih tua atau yang lebih superior, sesuatu yang saya amat sangat payah. Percaya diri dan berani. Cerdas dan kritis. Ia hebat dalam mengorganisir, berpikir cepat dan menguasai keadaan. Semua kualitas yang saya inginkan untuk menjadi karakter saya. Uniknya dia punya cerita hidup seperti sinetron yang dijalaninya dengan kuat hati.

Sekarang kami tidak lagi sekantor. Dalam kesempatan yang amat jarang, kami janjian bertemu tanpa agenda apapun kecuali hanya untuk mengobrol. Nongkrong di sebuah resto sampe menjelang tutup.

Sodari-sodari saya, yang semuanya punya panggilan khusus dari saya: Sujule, Kakachu dan Nti Surenti.

Boleh dibilang mereka lah sahabat masa kecil saya, terutama Kakachu. Umumnya seorang kakak yang punya adik berjenis kelamin sama, di masa kanak-kanak dan remajanya sering ogah dibuntutin sang adik. Tidak bagi Kakachu. Dia senang mengikutsertakan saya ketika bersama teman-temannya. Kami sering pulang kuliah bergandengan tangan seperti anak TK —sesuatu yang dianggap lucu dan aneh oleh teman-teman kami.

Katanya persahabatan pun bisa jadi posesif dan monogami. Saya ingat pernah merasa sebel sampe nangis karena Kakachu sering pergi dengan calon suaminya. Padahal saat itu saya punya pacar lho (huaaaa aib ini mah), yang artinya saya bukannya kesepian banget. Tetap aja beda, maunya ngobrol dengan Kakachu.

Saya dan sodari-sodari jarang sekali bertemu karena sekarang tinggal berjauhan dan masing-masing sibuk dengan keluarga. Telpon dan BBM-an juga ngga tiap hari. Namun tiap ketemu kami akan cekikikan membahas hal ngga penting. Kami berbagi aib dan rahasia yang ngga akan diceritakan ke orang lain. Saat bersama mereka, saya senang bisa menunjukkan true color. Walopun bilangnya socially awkward, saya ini badut keluarga. Ga segan bertingkah aneh dan memalukan. Kalo di luaran kan suka jaim gitu deh.

Saya cocok dengan Sujule dalam hal berbagi hobi yang sama, yaitu mengoleksi novel.

Dengan Kakachu, saya bertumbuh bersama (karena jarak lahir yang hanya satu tahun), bahkan kami selalu satu sekolah dari SD sampai kuliah di jurusan yang sama.

Dengan Nti Surenti, saya berbagi obrolan ngaco dan pikiran-pikiran gila. Dia lah orang pertama yang akan saya cari untuk dijadikan tong sampah. Karena umurnya lebih muda, lebih enak ngomel-ngomel sama dia hahha..

Kalo mengutip pepatah, saya ini termasuk orang yang “jauh di mata jauh di hati”. Kalo udah berjauhan, jadi jarang ketemu dan jarang kontak dengan sahabat. Makanya saya kagum sama orang yang awet banget dengan sahabatnya.

Saya mengenal dua orang yang sampai sekarang masih akrab dengan sahabat masa kecilnya. Adek saya dan temannya seperti halnya saya dan Mimi. Berteman dari TK dan selalu satu sekolah sampai SMU. Rumahnya hanya berselang dua rumah. Bedanya mereka masih berkomunikasi lancar. Saya memperhatikan dari masa kanak-kanak, bersekolah, dan sekarang menjadi ibu-ibu muda. Teman datang dan pergi ataupun tinggal, baik teman mutual atau teman masing-masing, mereka berdua tetap sahabat akrab. Oiya mereka berbagi bulan lahir yang sama hanya berbeda empat hari.

Satu lagi adalah teman SMU saya, Sisil. Sebenarnya saya tidak benar-benar mengenalnya, hanya tau nama saja. Saya follow twitternya dan tau (euuuh saya terdengar seperti stalker ngga sih), Sisil masih memiliki barang langka itu, sahabat masa kecilnya. Walopun Sisil (menurut pengakuannya sendiri) itu keliatannya judes dan tipe MYOB (mind your own business), mirip saya tapi dalam bentuk yang classy dan smart, ia luar biasa baik dan perhatian terhadap sahabatnya itu.

Ah keren banget mereka.