secangkir teh tarik

…ya untuk diminum, apa lagi. mau?


Leave a comment

ngomongin yang tak-bisa-diomongin

Setelah ada yang nyasar ke eikeh punya blog dengan search term

image 2

kemaren ada yang ke sini cari informasi

image 1

Hmm….

Sini saya kasi tau: yang pasti, bukan siang hari

*pilin-pilin jilbab*

:mrgreen:

……………………………………….

Padahal bukan mau nulis itu tongue

Bulan lalu surprisingly saya ketemu Mel, karib seperjuangan di Jakarta. Mulai Juni tahun ini ia ditugaskan oleh kantornya memimpin administrasi di cabang Ambon.

Saya pengen tau dong tentang daerah barunya. Mel cerita tentang pantai-pantai indah yang tinggal ngegelundung dari tempat tinggalnya, serta para Ambonese yang mukanya keliatan galak namun begitu disapa jadi ramah luar biasa.

Awalnya tau mau ditempatkan di sana, Mel ketar ketir secara Ambon kan daerah konflik. Sampe di sana, baru ngeh kalo masyarakatnya tinggal berkelompok sesuai agama, Kristen atau Islam. Menentukan lokasi rumah dinas, juga termasuk mempertimbangkan agama karyawan yang akan ditempatkan. Complicated lah pokoknya antara demografi setempat yang demikian dengan kebijakan kantor Mel. Terpaksa untuk sementara ini Mel keluar kocek pribadi untuk ngekos.

Yang ngga kalah ekstrim, kegiatan ngobrol akrab dan nongkrong bareng seperti kami ini sulit diterima oleh masyarakat di sana. Karena e karena saya muslim sedangkan Mel Kristen. I was like, hoh?

Ngaku deh. Walopun bukan berasal dari keturunan berilmu agama tinggi, keluarga saya ini termasuk steril, dalam artian ngga ada yang beragama selain Islam. Paling tidak yang saya tau sampe 3 generasi di atas saya atau sepupu 2 kali. Interaksi saya dengan teman-teman sekolah yang beragama lain juga hanya sekedar formalitas, karena tentu saja saya termasuk mayoritas.Yang lumayan dekat waktu SMA sebangku dengan aktivis gereja dan diajarin nyanyi dengan pembagian suara. Singkatnya, saya tidak pernah mengganggu namun juga tidak bergaul akrab.

Bertumbuh di lingkungan yang cenderung homogen membuat saya sempat kaget waktu awal bergabung dengan tim yang waaa china semuaaa… tentu saja hanya dalam hati tapi teteeeup dong terdengar rasis.

Dan karena lingkungan homogen, yang semacam ini bisa terjadi:

A: Kami sering panggil Om S ke rumah untuk pijat kalo ada yang keseleo.

B: (manggut-manggut)

A: Pijatannya enak. Tapi (merendahkan suara), dia orang Kristen

Tepat seperti yang sering diulas dengan tajam oleh Margareta Astaman di blognya. Mau ngasi link, tapi platform blog-nya multiply yang akan (segera) musnah.

People do talk about race and religion. People do stereotype. In inner circle. Dengan keyakinan, jika membicarakannya secara terbuka maka akan menjadi next Tragedi Mei ’98.

Kemudian dengan kritis MA mempertanyakan: apakah kerusuhan terjadi karena antar suku membicarakan stereotipe secara frontal, atau justru karena stereotipe seperti itu terus dipendam tapi tidak berani diklarifikasi, memupuk kebencian hingga akhirnya meletus dan memakan korban?

Setelah episode “merasa terintimidasi” oleh para china dan Kristen/Katolik -terintimidasi dalam tanda kutip, karena sebenarnya tidak ada yang mengintimidasi, it’s inferior complex of mine was talking- saya belajar bahwa senior saya berusaha sebaik mungkin membuat junior merasa nyaman. Not to mention mereka disiplin dan profesional, di sisi lain peka dengan sesama.

Saya semakin terbuka bergaul dengan agama lain sejak berteman akrab dengan Mel yang Kristen dan @vyisipie yang Katolik. Bahkan ada masa dimana orang-orang terdekat saya bukan teman sesama muslim. Kemudian karena merasa nyaman, pertanyaan mengapa di agamamu kok begini begitu tidak perlu ditanggapi dengan defensif. Yang bertanya karena benar-benar ingin tau, yang menjawab pun berusaha menjelaskan dengan sederhana. Keingintahuan yang dikonfirmasi menjadikan hubungan sosial lebih sehat. Tidak selalu bisa dimengerti misalnya, mengapa muslim tidak boleh makan yang mengandung babi padahal kan enak, namun toh menjadi lebih mudah menerima hal yang berbeda tersebut. Saya baru tau umat Katolik berpuasa pantang menjelang Paskah, dan biasanya saat-saat itu @vyisipie sering minta ijin tidak lembur untuk menghadiri kebaktian. Juga baru tau kalo ngga boleh menusuk makanan pake sumpit, karena bagi orang China itu seperti sedang sembahyang orang mati. Errr… sebenarnya saya ngga bisa makan pake sumpit.

Dan percakapan searah di atas bisa ditanggapi dengan: (rolling eyes) Point? Kalo si Om S itu Kristen, ngaruhnya apa dengan cara dia memijat?

Kembali ke keadaan masyarakat Ambon yang terkotak-kotak seperti kata Mel, yang sepertinya untuk menghindari gesekan. Toh terkadang Mel dan rekan-rekannya masih harus buru-buru menyambar tas dan cabcus pulang demi tidak terjebak kerusuhan warga. Tentu saya tidak bisa beropini apapun, saya tidak mengalami yang mereka alami, menginjak tanah Ambon pun belum pernah. Hanya menyayangkan jika benar di sana kami tak bisa nongkrong bersama.

*****

Ditulis belakangan. Baru aja baca kisah Umar bin Khathab, salah satu Khulafaur Rasyidin yang tidak suka berlebih-lebihan.

Ada seorang lelaki menyanjung temannya di hadapan Umar. Kemudian Umar bertanya kepada orang itu, “Apakah kamu pernah menemaninya dalam perjalanan?”

Orang itu menjawab, “Tidak.”

Umar bertanya lagi, “Apakah kamu pernah berinteraksi (bermuamalah) dengannya?”

Orang itu menjawab, “Tidak.”

Umar berkata kepada orang itu, “Kalau begitu engkau mengucapkan sesuatu yang tidak kamu ketahui.”

(Dari terjemahan Umar Bin Al Khathab The Conqueror, Abdurrahman Asy Syarqawi, h.446)


Leave a comment

tips berwudhu

errr…

berwudhu aja pake tips-tips an?

Yah satu aja kok. Soalnya ada yang gengges beberapa hari yang lalu.

: jangan sok asik sendiri gosok-gosok sampe air nyiprat kemane-mane.

Sepele yak?

Coba bayangin kalo ada yang sedang gosok kaki dengan semangat, sementara di sebelahnya kita lagi mau mengusap muka (posisinya kan agak nunduk tuh). Selain kondisi kita yang terciprat ini jadi meragukan (karena air bekas wudhu itu tidak bisa mensucikan), juga ewww…banget toh. Padahal bisa banget loh gosok kaki tanpa nyipratin orang.

Sama ewww-nya dengan cewek di meja sebelah yang mengibaskan rambut panjangnya sampe kena makanan saya, di sebuah resto cepat saji.

Nah soal mencuci kaki saat berwudhu ini juga pernah jadi masalah di sebuah kantor.

Sewaktu masih jadi auditor, saya dan teman-teman tim lebih sering berkantor di kantor klien. Di lantai 15 tempat auditor ngantor tersebut, karyawan muslimnya minoritas. Dan di seluruh lantai sama sekali ngga ada tempat wudhu. Ada satu orang karyawan wanita muslim, dia sering ke-gep sedang cuci kakinya di washtafel oleh rekan kerja yang lain. Mungkin si rekan ngga tau itu termasuk ritual wudhu, ngomel-ngomel lah di belakang. Tiba-tiba muncul tulisan peringatan “Dilarang cuci kaki di washtafel” dari pengelola gedung. Ditempel di toilet seluruh lantai.

Poin di sini, kadang muslim itu sering mentang-mentang merasa mau ibadah, jadi suka-suka berkelakuan yang membuat ngga nyaman sekelilingnya. Misalnya seperti urusan wudhu ini, emang agak susah jadinya karena sama sekali ngga ada tempat wudhu kecuali di basement yang jauh dan lembab dan tempat bapak satpam nongkri.

Trus gimane ye? Saran aja, mungkin bisa pake tadahan terus cuci kaki di atas lobang toilet (walo ini juga meragukan karena ngga boleh wudhu ngadep tempat pembuangan). Atau kayak saya yang turun dulu ke lantai 13 dimana karyawan muslim lebih banyak dan saya lihat juga sering cuci kaki di washtafel. Kalo sedang ada orang lain, sebaiknya ditunda dulu wudhu-nya sampe toilet sepi. What they don’t know won’t hurt them toh hihihih…. Dan jangan bikin becyek, abis wudhu washtafel dan lantainya dilap gitu lho.

Kan Islam itu rahmatan lil ‘alamin, bukan rahmatan lil muslimin 🙂

Berkaitan dengan maunya-ibadah-tapi-caranya-ga-ngenakin, ada contoh lagi nih.

Mushola di tempat umum itu biasanya kecil, apalagi bagian wanitanya. Ada saat-saat sholat seperti Maghrib yang waktunya paling pendek orang bisa ngantri ngrumpul di pintu masuk. Terus yang di dalam yang sudah selesai sholat wajib, masih mau nambah sholat sunnah plus wiridan panjang. Ya kalik kasi tempat dulu buat yang lain ngerjain kewajibannya.

Ngomong-ngomong, kenapa ya para wanita itu sering susah diajak merapatkan shaf dibandingkan laki-laki?


Leave a comment

mungkin ada, saya yang ngga tau

Dalam satu penugasan audit di sebuah hotel di Jakarta Barat, suatu malam saat istirahat dari lembur, saya membaca sebuah kisah di papan karyawan. Tau kan yang untuk pasang pengumuman, foto kegiatan, internal memo, macam-macam lah.

Kisah ini tentu dimaksudkan sebagai motivasi. Saya sudah lupa cerita detilnya karena saya baca pada tahun 2007 (kali di internet juga ada?). Kira-kira begini kisahnya.

Di sebuah hotel di Singapura ada pegawai yang khusus bertugas mengecek pintu yang ada di hotel tersebut. Pengecekan itu dilakukan untuk memastikan bahwa semua pintu berfungsi dengan benar, tidak ada kesulitan dalam membuka maupun menutupnya. Kamar hotel tersebut cukup banyak (saya lupa berapa), ditambah lagi dengan ruangan fungsional, pintu darurat dan pintu-pintu lain, sehingga memakan waktu setahun untuk mengecek semua. Dan tahun berikutnya si pegawai akan mulai kembali dari pintu pertama yang ia cek. Begitu seterusnya sepanjang tahun, selama bertahun-tahun.

Sebuah pekerjaan yang remeh dan membosankan. Namun si pegawai melakukannya dengan serius.

Seorang wartawan (anggap saja demikian, karena lagi-lagi saya lupa siapa) menanyakan kepada si pegawai mengapa ia begitu sungguh-sungguh menghadapi pekerjaan yang membosankan itu.

Si pegawai menjawab, “pekerjaan saya ini penting karena menyangkut keselamatan semua orang. Bayangkan jika terjadi musibah kebakaran, misalnya, ada salah satu pintu yang macet. Maka akan ada tamu atau ada pegawai yang terjebak di dalam ruangan. Menyelamatkan pun akan butuh waktu. Saya harus memastikan bahwa engsel, kenop, semuanya berfungsi dengan baik sehingga hal tersebut bisa kami cegah.”

Sebenarnya di kisah tersebut tidak disebutkan, tapi tentu semua bisa dong mengerti moral of story-nya:

Semua pekerjaan itu penting. Maka bekerjalah dengan sungguh-sungguh.

Mencegah lebih baik daripada memperbaiki.

Yada yada bla bla bla…

Udah?

Nah. Saya ngga bisa ngajarin hikmah-hikmah kek gitu ya. Saya bisanya mengeluh :mrgreen:

Jadi gini. Karena keseringan jalan nunduk, saya perhatikan di jembatan penyebrangan non-permanen (apa ya namanya yang biasanya jembatan di halte busway), sering ada lempengan yang tidak terpasang dengan benar. Baut atau murnya mungkin terlepas. Lagi-lagi, nama bahan lempengan jembatan itu apa toh.

Saya pernah pulang dari kantor menggunakan jembatan penyebrangan. Hampir sampe ke sebrang, di bagian bidang miringnya ada lobang aja dong. Lempengannya entah kemana tau. Posisi si black hole masih jauh dari tanah. Untuk melompatinya lumayan jauh. Jadi orang yang lewat bergiliran menyusuri sisi pagar jembatan.

Bagi orang yang takut ketinggian dan punya sedikit masalah dengan keseimbangan kayak saya, horooor banget pun. Setelah meratap-ratap memantap-mantapkan keberanian, daripada cuma jongkok di jembatan ngga pulang-pulang, akhirnya saya ikut bergelantungan. Itu komat-kamit baca doa ngga berhenti sampe nyentuh tanah. Untung hak sepatu cuma 3cm. Kalo high heels, kali harus dilepas terus simpan di tas (ngga mungkin dipegang, pelukan dengan pagar aja mesra kencengnya).

Besok malamnya lewat situ lagi, lempengan yang hilang sudah diganti baru. Cepat ya? NOT.

Tiap melewati jembatan penyebrangan, saya selalu teringat kisah di atas. Berharap ada seseorang yang khusus dan rutin menginspeksi kelayakan jembatan penyebrangan di Jakarta, yang sama berdedikasinya seperti si pegawai hotel itu. Sebelum ada yang rusak atau kejadian apa gitu *mitamit*

Mungkin ada ya, tapi sayanya yang ngga tau.


Leave a comment

ketika niat baik dipertanyakan

Pernah kayak gini?

Percakapan di BBG. Aslinya dalam bahasa Banjar.

 

A: oiya…baju set hijabernya gratis kok untuk kalian

K: saya sih suka gratisan…tapi ada apa nih?

A: 🙄 aneh. saya cuma mau ngasi, masa dicurigai

ngasi orang bisa, kok ngasi keluarga ngga bisa.

malah ditanya [ada apa]

 

saya sering jadi K, juga pernah jadi A.

Emang kalo mau ngasi-ngasi harus ada apa-apa dulu ya?

🙂


Leave a comment

passion…passion..passion

Lebih kayak Chandler? Atau seperti Ross yang "can't get enough dinosaurs"?

Penggemar serial “Friends” pasti tau sulit bagi friends-nya untuk menyebutkan pekerjaan Chandler. Berbeda dengan Chandler,  profesi friends yang lain mudah diidentifikasi.

Monica » koki

Rachel » mempunyai minat di bidang fashion dan bekerja sebagai buyer executive

Ross » paleontologist

Joey » aktor

Phoebe » pemijat dan musisi

Selama delapan musim, Chandler  terlihat paling mapan secara finansial. Bekerja di sebuah perusahaan multinasional dengan posisi manajerial (IT Procurement Manager), punya kemampuan di bidangnya (statistic analysis and data configuration) namun yang paling tidak menikmati pekerjaannya.

Apa yang salah?

Ini pikiran random saya saja:

Waktu kecil, kita akan menjawab “dokter/polisi/guru/(profesi)” sebagai cita-cita. Tidak ada yang menjawab “kerja di kantor dan jadi manajer”. Dulu saya pernah nemu satu teman yang bercita-cita “kerja di bank” (ketika itu kebijakan perbankan longgar, banyak muncul bank-bank baru).

Sejak menjalani usia produktif, pertanyaan yang sering saya terima adalah (be)kerja di mana, dan bukannya pekerjaan (profesi) apa. Orang lebih terbiasa dengan lulus sekolah kemudian bekerja kantoran.

Ini pengamatan saya saja yang sok tau ataukah memang seseorang dengan pekerjaan di belakang meja dan berkaitan dengan data seringnya mengeluh bosan dan tidak semangat tiap berangkat kerja? Kebanyakan orang akan menjalani dengan datar karena harus mencari uang untuk hidup.

Chandler akhirnya resign dari pekerjaan berpenghasilan besar dan berani mengejar passion-nya walaupun harus memulai karir dari bawah sebagai Junior Copywriter.

Saya masih #mainstream sih yang mengukur kesuksesan dengan besaran gaji, kantor yang keren, posisi yang bikin orang berdecak kagum. Saya masih sangat mencintai uang (so who doesn’t?). Namun saya berharap suatu hari nanti bisa menikmati passion seperti Chandler. Fufufu…

Passion is not what you’re good at. It’s what you enjoy the most. – René Suhardono (@ReneCC)


Leave a comment

a big city girl

Setelah 14 tahun merantau (sampe ngga punya kamar dan barang pribadi di rumah), ini pertama kalinya saya pulang lama ke rumah mama di kampung. Tiga minggu menyenangkan makan masakan rumah, bisa nyetok es krim di kulkas, baju dicuciin, kemana-mana diantar, minum jus duren hasil kebon dan sore ngobrol sama mama sambil ngemil.

Rumah mama di sebuah kota kabupaten di Sumatera, empat jam perjalanan darat dari ibu kota propinsi. Tidak ada hiburan di kota kecil ini, yang tidak jadi masalah karena saya orang rumahan. Betah di rumah asal ada bacaan.

Namun ada saat-saat saya merindukan Jakarta, kota kelahiran dan perantauan selama lima tahun terakhir. Coffee time dengan sahabat dan ngobrol dari awal buka sampe tutup, nongton pelem di bioskop, teater (kegemaran baru saya) atau live standup comedy, dan datang ke book fair.

I’m a big city girl.


Leave a comment

Sisters

Whenever I couldn’t talk about my thoughts freely for the sake of goody-goody-girl image, I always could share them to my sisters.

As we grow older, we are more closer. Hence, they know the very bitchy-me big grin

Now we live in different cities.

I always wait for the moment when we get together. Giggling from head to toe for whatever reasons.

We even laughed in our pa’s death. Recalling him in happy and fun ways whilst tears were falling down.

For years we share those laughs and tears.

And I’m grateful to have them in my life.