secangkir teh tarik

…ya untuk diminum, apa lagi. mau?


Leave a comment

kisah seorang lelaki sederhana

Ini sebuah kisah yang ditulis sebagai koleksi pribadi.
 
Tapi bukan cerita saya 
 
Sungguh dia hanya lelaki sederhana…
Ketika kuliah dulu, nyaris bajunya itu-itu saja, jarang pakai baju baru.
Dia lebih banyak berpuasa, terutama puasa Daud. Alasannya untuk ngurusin badan, tapi kukira dia pasti berniat sesuatu.
Dia hanya berkendaraan motor warisan kakaknya (sejak kakaknya kuliah), sesekali dia senang menemaniku pulang pergi kuliah naik bis, sembari jalan kaki.
 
Sungguh dia hanya lelaki sederhana…
Nilainya selama kuliah bagus-bagus, tapi dia bukanlah yang paling pintar
tidak menonjol, tidak populer 
biasa saja
 
Sungguh dia hanya lelaki sederhana…
tapi tidak pernah mau menerima traktiranku. Harga diri lelaki alasannya. 
Dia yang selalu mentraktir kalau mengajak makan bersama. 
Padahal setahuku uang sakunya juga tidak banyak, apalagi sejak ayahnya meninggal, mungkin kakak-kakaknya yang membiayai kuliahnya.
 
Dia bukan pacarku, bukan kekasihku… 
Dia memang suka padaku, menyayangiku 
Aku sering melihat tanda-tandanya, tapi kuabaikan 
Memang dia ingin aku jadi pacarnya
Tapi aku hanya menganggapnya teman, teman yang sangat baik 
 
Saat itu dia bisa menerima hanya kuanggap teman 
Mungkin sambil berharap suatu saat pikiranku berubah
Dia memahami bahwa aku sudah tidak berniat lagi punya pacar 
Aku mencari calon suami
 
‎​Sampai suatu saat aku bercerita tentang lamaran seorang pria padaku
Melalui telepon, kudengar dia kecewa
Sejak saat itu lama tak kudengar kabarnya
 
Padahal sesungguhnya dia sangat sukses dalam karirnya.
 
Sungguh dia lelaki sederhana… 
Namun saat ini jika kubertanya pada dunia maya, maka profilenya akan ada sebagai manajer di perusahaan produsen consumer good terbesar di Indonesia
Sedang aku…
namaku hanya terkait di satu jejaring sosial
(jika tanpa embel-embel nama suamiku, maka namaku yang pasaran banyak terkait dengan berita mesum orang lain…)


Leave a comment

belajar berenang

“Apa ngga telat baru belajar skarang?”
Saya cengar cengir, tak ingin menjawab dengan clichebetter late than never“.
“Saya juga ga bisa berenang. Takut tenggelam…” Si ibu masih melanjutkan komentar iseng.
 
“Ada tuntutan pekerjaan?” Pelatih saya mencoba mengorek.
“Itu lho seperti yang daftar jadi pramugari atau angkatan bersenjata kan harus bisa berenang.”
“Ooohhh…nggaaaa. pengen aja bisa” *sambil sedot ingus karena hidung kemasukan air
 
Bisa berenang selama ini cuma jadi keinginan. Hanya terefleksi pada baju renang khusus muslimah yang sudah lama terlipat di sudut lemari. Sampai suatu saat dalam suatu obsan, kakak saya menyinggung sebuah hadist (atau pesan Umar R.A ya?) yang sering saya baca dan dengar “Ajarilah anak-anakmu berkuda, memanah dan berenang.”
 
Di negeri padang pasir 15 abad yang lalu saja sudah diperintahkan untuk bisa berenang. Masa saya yang anak negeri maritim ini ngga bisa sih. Motivasi idealis yang susah saya bagi kepada si ibu iseng dan pelatih, terutama pada saat menggeletar kedinginan di pinggir kolam.
 
Setelah mengemis waktu seorang teman untuk menemani ke kolam renang terdekat, saya mendapatkan pelatih wanita. Sip lah.
 
Hari pertama:
Belajar bernapas.
Oke. Tiap hari kita napas kan? 
…dalam air. 
W-wwhaaat??? 
Uh-oh….hiiiyyyy…
Hari itu entah berapa liter air kolam memenuhi setiap lubang terbuka di tubuh saya.
 
Hari kedua: 
Mulai belajar menggerakkan kaki dan mengapung sambil dipegangi. Pelatih berulang kali bilang lemaskan badan dan kepala masuk ke air. Berulang kali juga saya mengkakukan badan dalam usaha keras agar kepala tetap berada di atas —> ck..anak yang bandel
 
Bernapas belum teratur (masih menghasilkan gelembung-gelembung besar), gerakan kaki belum bagus (kaki diayun kebanyakan) eeeehh..saya sudah disuruh meluncur, sementara pelatih menunggu di depan. Setelah beberapa kali tidak menunjukkan kemajuan (pokoknya ngga bisa ngapung aja tanpa dipegangi), pelatih mencoba cara baru. Meluncur, kepala langsung masuk ke dalam air, tahan napas. 
 
Saya komat kamit berdoa sambil berpegangan erat di pinggiran kolam, mencoba selama mungkin mengulur waktu. Padahal nih ya, saya tuh berada di bagian kolam yang dangkal, masih sangat bisa berdiri. Tapi kalo panik siapa yang tahu kan. Apalagi saya tidak terbiasa berada di dalam air.
 
Ketika tidak ada alasan lagi, saya pun mengambil napas, menendang dinding kolam dan membenamkan kepala sambil menahan napas. Woohoooo…saya meluncur lhoooo…berhasil..berhasil *lompat-lompat di air
 
Hari ketiga: 
Oh. ada miskomunikasi antara saya dengan pelatih. Ketika saya mengatakan “besok ya”, maksud saya adalah benar-benar hari tepat setelah hari ini. Tapi sepertinya pelatih menangkapnya sebagai “hari-hari setelah hari ini”, yang diterjemahkan dengan jadwal yang biasa, hari yang sama di minggu depan.
 
Jadilah hari itu saya mencoba latihan sendiri. Ternyata keberadaan pelatih itu sugesti yang sangat kuat. Cukup lama saya berdiri di pinggir kolam, sebelum memberanikan diri mempraktekkan pelajaran kemarin. Itupun cuma berani meluncur dari sepertiga pertengahan kolam menuju ke pinggir, dan tidak mencoba arah sebaliknya. 
 
Dan saya benar-benar berusaha agar tidak setetespun air kolam masuk ke pernapasan. Karena oooohhhh…berenang di hari minggu pagi sungguh mengerikan. Ramenya bagaikan cendol. Dan airnya huhuhuhu…saya merem sajaaaa… *aaaarrrgghh itu benda apa yang barusan lewaaaaaat….*histeris
 
Setelah saya pikir cukup lama menyiksa diri melihat banyak benda aneh seliweran di air, saya memutuskan cabcus sebelum mengalami trauma permanen.


Leave a comment

Cerita Pulang Kampung

Seperti ingin mengikuti tagline Obama yang menimbulkan simpati, sayapun minggu lalu ikut ber-“pulang kampung nih”. Bagi yang mencurigai adanya acara perjodohan…uhmmm *bersihin tenggorokan*..maap mengecewakan. I wishBut it was not 
 
Pulkam kali ini istimewa. Dalam rangka lebaran haji keluarga besar kakek dari pihak bokap, semua keturunannya diperintahkan untuk pulang. Free of charge. Bebas akomodasi. Saya yang mulanya ga berniat datang karena masih fakir cuti, nekad ngutang saking ngeri kena kutuk keluarga besar yang nyinyir mencibir. Belakangan saya tau, beberapa sepupu yang sudah pesan tempat duluan, malah ga jadi datang karena ga dapat cuti dari kantornya. huuuhhh…tau gituuuu… eh ngga ding. Family comes first. Kalo saya kelak pensiun dari kerjaan apapun, pekerjaan ga akan kehilangan saya. Selalu ada yang bisa menggantikan. Kalo saya kehilangan atensi keluarga karena selama ini kurang bersosialisasi, duh ngga kebayang siapa yang mau jadi wali pernikahan or siapa yang akan mensholatkan jenazah. ya toh? ya toh?
 
 
Hari Pertama
 
Di pagi hari senin yang cerah, saat Jakartans berangkat ngantor, kami terbirit-birit mengejar pesawat pagi jam 06.30 ke Palembang. Yang pegang tiket datang telat. Yang berangkat dari Jakarta ada 30 orang. Maka rombongan kami yang terakhir boarding ke pesawat. Berisik pula. Saya yang single cuma ngurus diri sendiri, cepat-cepat menyelipkan diri ke seat di buntut pesawat. Pura-pura bukan bagian dari rombongan hore ini. Pasang seat belt dan langsung ngences di jendela pesawat. Maap ya uwak-uwak, tante, ayuk-ayuk, kakak-kakak. Ngantuk booo…malam sebelumnya kurang tidur nih.
 
Tiba di Palembang, rombongan diatur keluarga siapa naik mobil yang mana. Acaranya ternyata digarap dengan serius, scara pas kami keluar dari bandara ada dua orang juru foto dan satu orang kameraman yang akan mendokumentasi acara mulai hari ini. Pheeewwww…. *pasang gaya alay depan kamera
 
Sebelum melanjutkan perjalanan ke kampung, kami mampir dulu ke tempat keluarga di Palembang untuk brunch. Hidangannya mie celor Palembang (yang pake santan) dan martabak Pak Har. Enyak..enyaaaakkk.. Setelah mampir ngotorin piring, trus lanjut perjalanan darat.
 
Saya ini sebenarnya jarang mabuk darat. Untuk jalanan trans Sumatera yang tikungannya sering berbelok 180 derajat, ketahanan perut cukup teruji. Dan karenanya, saya pasti akan mengalah untuk duduk di kursi belakang. Hari itu, kami dibantu seorang keponakan yang menyetirkan mobil dengan membabat jalanan. Maka derita adalah: saat sangat membutuhkan tidur, badan babak belur dan kepala kejedot kaca, terbanting-banting secara konstan dalam perjalanan brutal selama 4 jam.
 
Hari pertama tiba ya acaranya cuma makan siang bersama, ngobrol (istilah kampungnya: bejejeh), istirahat, makan malam bersama, ngobrol, istirahat.
 
 
Hari Kedua
 
Rumah kami sudah hidup dengan kesibukan sejak jam 4 pagi karena kami kebagian menjadi host sarapan. Itu juga rasanya telat banget karena jadwal acara mulai jam setengah tujuh. Alhamdulillah semua lancar dan siap pas tamu-tamu berdatangan. Berkat mami sang jenderal dapur kami yang memerintah daerah kekuasaannya dengan tangan besi. Owyeah, beliau tidak akan duduk santai sebelum memastikan semua beres dengan tangannya sendiri. 
 
Sepanjang hari ini acaranya berkunjung ke desa-desa, silaturahmi dengan keluarga, menyerahkan qurban dan ziarah ke makam leluhur. Sore hari rame-rame nyebur ke lubuk (sungai) Nambulan. Saya sih sudah siap dengan pakaian yang sedianya untuk berbasah-basah. Setelah memperhatikan sekitar, selain untuk mandi, lubuknya juga dipakai untuk cuci pakaian dan bersihin daging ayam…eeerrrr ooookaaayyy…*ga jadi berendam.  Yang ngga nyemplung, pesta duren di tepian lubuk.
 
Gila-gilaan mungkin memang ada di darah keluarga. Kami sudah agak lama berada di air, ketika seorang om kami baru bergerak masuk dengan celana dalam sewarna kulit. Eeewww….sungguh banyak rahasia yang dibuka. Fotonyapun segera beredar di BBM group. Thanks God i’m not a BB-user *ngintip-ngintip BB adik
 
 
Hari Ketiga
 
Mengawali pagi dengan sholat Ied di kampung mami, 30 menit perjalanan mobil dari rumah. Kelar sholat, meluncur ke acara peletakan batu pertama aula serba guna Ponpes Abdur Rohman. Potong qurban. Makan-makan. Foto-foto keluarga. Basa-basi. Cape sangaaaaatt….
Ternyataaaaa saya tidak cukup capek untuk melanjutkan acara yang kemudian kami bikin sendiri.
Untuk diketahui, saya ini bukan penyuka kegiatan luar ruangan, ngga suka main kotor-kotor, memuja kemudahan sarana dan tidak tahan derita. Sore itu, dengan jalanan yang begajulan sepanjang 20 kilos, hujan gerimis mengundang dan migren sebelah kanan, kami bergembira berfoto di tambang batu bara. Memanjat buldozer. Membahayakan keselamatan dengan mendekati excavator yang sedang beroperasi. Bergaya di atas truk triton dan stock pile batu bara berwarna pekat. Dengan outfit jeans baru, blues putih juga baru, flat shoes yang ngga banget buat menginjak medan berbatu dan becek. For the sake of saying: “been there..” *muka songong. Well, narciss is in the air, baby….hahaha ngga penting bangeeeeettt….
 
 
Hari Keempat
 
Kami dijadwalkan pulang malam ini. Hari berlalu di atas roda berjalan. Ngga ada waktu istirahat panjang. Besoknya sudah harus masuk kerja huuuffttt…*loyo


Leave a comment

arti nama

Anak bawel (AB): Pah apa arti nama saya?
Papa cool (PC): … (melengos ke jendela) ==> orang yang males ngomong
AB: Saya sering ditanya arti nama saya. Saya ga pernah tau. Pernah nanya mama, katanya artinya cantik  ==> anak bawel. emaknya tipe ortu yang suka jawab ngaco atas pertanyaan anak, asal anaknya diem
PC: … Dulu itu karena situasinya prihatin, belum punya rumah belum punya pekerjaan tetap
pantesan saya selalu prihatin melulu, walau punya duit berapapun ==> mental kere
 
AB: (ngeyel) tapi nama saya artinya jauh bener
Mama: Alhamdulillah dikasi nama bagus, daripada mama kasih nama Ngatinem
(mohon maaf untuk yang bernama Ngatinem)
 
Case’s closed *ketok palu.


Leave a comment

cobaan hidup seorang auditor

kejadian sekitar setahun yang lalu….

klien (berjenis kelamin pria, akhir 20-an, bawel nan rese) via telepon setelah saya minta tolong seorang rekan kerja ke mejanya untuk mengambilkan data: “kamu minta apa sih tadi?”

saya: ” production volume yang biasa kamu bikin.”

klien: “….hadoooh…kamu ni ngerepotin aja. aku lagi sibuk gini, ada deadline…”

saya: “iya maap..aku juga deadline. ini kan untuk perusahaanmu juga…”

klien: (ngedumel ga jelas) “…ibaratnya kamu nabrak orang di jalan, sengaja ga sengaja, tetap mati juga tu orang…”

saya: “….haaaah??? ga ngertiii….”

klien: “iyaaaa…kamu itu lho, sengaja ga sengaja ya tetap aja mengganggu…”

maksud loooooo…..????

saya minta data pada saat dia sedang sibuk, yang berarti mengganggu = saya menabrak orang di jalan dan orang itu mati.

analogi yang aneeeehhh….

jelas saya dengan sengaja dan sadar meminta data. kalo si klien merasa terganggu bagaikan orang yang ketabrak kendaraan saya di jalan dan mati, yeaaaahhh….*ngga bisa ngomong


Leave a comment

Siapakah Tiger Wood?

“Siapa tuh Tiger Wood?”

Tanya saya menimbulkan reaksi kerutan di kening seorang rekan kerja di meja seberang.

“Kamu ga tau Tiger Wood?” Rekan di sebelah yang merupakan sasaran pertanyaan saya karena sibuk bergumam tentang si TW sambil browsing di internet, balik bertanya.

Saya menggeleng. Orang pentingkah?

“Ga tau Tiger Wood?” Dengan gaya lebay tak percaya bahwa saya tak pernah mendengar si TW-TW ini, dia mengulangi pertanyaan.

“Itu pegolf nomor satu dunia,” jawab rekan di seberang.

“Dia itu pegolf paling hebat, sangat kaya..” Hebat dan kaya beberapa kali terdengar dalam gumaman, sebelum dia berpaling sejenak dari layar monitor ke arah saya dan menyambung “…bodoh kamu…” sambil menoyor kepala saya.

Saya bengong terbingung-bingung. “Terus kenapa si Tiger Wood ituh?”

“Gua mau tau kenapa akhir-akhir ini banyak banget perempuan yang ngaku jadi selingkuhannya..”

Si rekan kembali fokus pada pencarian di internet untuk memuaskan keingintahuannya akan wanita-wanita TW.

Begitulah. Hari itu saya dibodoh-bodohi karena pengetahuan saya yang cetek di bidang olahraga dan gosip di sekitarnya. Lebih spesifik. Saya pantas mendapat toyoran di jidat karena tidak tahu siapa itu Tiger Wood, yang ternyata ‘hanya’ seorang olahragawan dan petualang cinta! Tidak pernah tercantum dalam daftar 100 Tokoh-nya Michael Hart dimana Adolf Hitler saja mendapat tempat.

Bahkan pengetahuan itu tidak bisa digunakan jika saya menghadapi situasi semacam di bawah ini:

Malaikat penanya di alam kubur (MPAK): “Siapa Tuhanmu?”

Saya orang yang pinter banget (SOPB): “…mmmm…tidak tahu…”

MPAK: (sudah akan menoyor jidat pake jarum neraka)

SOPB: “Eh tunggu..tunggu..tapi saya tau siapa itu Tiger Wood, lho. Tanya saya, dong..”

MPAK: (langsung melelehkan otak saya yang berisi informasi tentang si TW) “Eeee…pen(ting) kah?”

Nah, lihat kan. TW yang begitu hebat dalam percintaan tidak menolong saya dari tusukan jarum neraka. Jadi mengapa saya harus menjadi orang pintar hanya karena seorang TW?

Setelah agak pulih dari kekagetan dibodoh-bodohi-dan-ditoyor-jidat, saya mulai berpikir. Adakah saya pernah melakukan hal yang sama pada orang lain?

Ah ya, saya yakin pernah. Walau tidak sampai menoyor kepala. Dari perkataan ataupun nada suara, bukan tidak mungkin saya sudah menyinggung intelijensia seseorang karena tidak memiliki pengetahuan yang sama. Padahal minat setiap orang berbeda-beda. Informasi yang diterima, pengetahuan yang didapat dan disimpan dalam memori otak pun berbeda.

Bukan salah sahabat, jika dia tidak tahu siapa itu Courtney Love atau Lucy Montgomery. Atau jika teman tidak tahu arti kata (maaf) libido, sehingga bertanya dengan volume suara yang terdengar keras ditengah kesenyapan ruangan kerja? Sama seperti halnya saya tidak tahu nama ikan yang menempel di tubuh ikan hiu (tuh kan saya lupa namanya, walau sudah pernah diberitahu. Chimahera ya?). Bisakah saya menerangkan saja, menjawab pertanyaan tanpa mengesankan “masa gitu aja ga tau sih?” Apa bedanya saya dengan si TW wanna-be itu?

Hari itu saya kembali mendapat pelajaran, bahwa punya teman atau kenalan dengan sikap sedang menyebalkan itu kadang bermanfaat. Jadi mengingatkan untuk: jangan melakukan hal yang sama, karena saya tidak suka diperlakukan demikian. Sangat membantu untuk menjadi orang yang lebih berempati.

Oh, ya satu lagi. Saya tidak membenci si rekan, lho. Dia telah memberikan sepotong cerita dan bahan obrolan jika saya terpaksa berada dalam situasi, misalnya, menunggu antrian di dokter gigi (saya pengen memberi contoh situasi terjebak di lift dan sementara menunggu bantuan datang, perlu ice-breaking. Tapi kayaknya terlalu menyeramkan ya..*ketok kayu 3x).

“Halo”

“Hai”

Karena pertanyaan semacam “lagi nunggu dokter juga?” atau “sakit gigi juga ya?” terdengar amat-sangat-basi, dan karena saya sudah bertambah pintar, maka…

“Kamu tau yang namanya Tiger Wood?”

“….Uhhhmmmm…ngga..siapa ya?”

“Aaah, kalau gitu kita sama dong. Saya juga ga tau siapa dia. Oiya, nama kamu siapa?”

Bukankah persahabatan bisa dimulai dari kesamaan? Dan mungkin kesamaan itu bernama Tiger Wood. =D


Leave a comment

sepekan yang lalu itu…

pernahkah kukatakan cinta?

ah ya, dua tahun lalu di titik enampuluh satu usia

melarikan diri dengan tidak membalas pesan singkatku,

itulah reaksi yang kuterima

aku bagaikan orang patah hati

namun bukankah kau telah menyatakannya,

jauh sebelum kuberanikan diri

bahkan sepanjang tigapuluh tahun usia yang kau bagi

melalui setiap tetes keringatmu,

tangan kasarmu

maupun kerutan di keningmu

kita bukanlah ayah dan anak

yang banyak menghabiskan waktu bersama

atau saling bertukar kata

atau berbincang dari hati ke hati

kau hanya mencintai dengan caramu sendiri

kau bukan pula ayah yang tanpa cacat cela

atau sarat dengan sifat terpuji

yang dengan bangga kuteladani

pun demikian, kau tetaplah lelaki teristimewa di hati

…dan semua kenangan tentangmu

bernama bahagia