secangkir teh tarik

…ya untuk diminum, apa lagi. mau?


Leave a comment

yang asem-asem lucu hari ini

Saya kira bangun jam setengah tiga pagi akan memberi waktu yang cukup untuk mengejar pesawat jam setengah enam.

Ternyata mefet.

Saya kira ngga sempat beli sus jenggot papa untuk sarapan.

Harusnya bisa.

Saya pikir saya sudah akan berada di Palembang paling lambat jam tujuh.

Tentu saja pikiran yang naif.

Bukan. bukan karena delayed. atau sudah boarding tapi di runaway disetrap setengah jam *pernah*

***

Saya pernah baca liputan mengenai ATC (Air Traffic Control) di majalah Tempo paska musibah di Gunung Salak.

Seorang pilot bercerita bahwa pernah pesawat yang sedang dikapteninya tidak bisa mendarat di Bandara Soetta karena diserobot oleh maskapai lain, sehingga ia terpaksa kembali ke Palembang.

Ngga mengira hal yang mirip akan terjadi dengan pesawat singa udara yang saya tumpangi.

Normalnya penerbangan Jakarta-Palembang memakan waktu 50-55 menit.

Pagi itu saya melanjutkan tidur di pesawat. Agak terbangun ketika terdengar suara Kapten memberikan aba-aba landing position. Namun sampe beberapa saat tidak diikuti gerakan pesawat menurun. Setengah mengantuk saya melirik jendela (saya duduk di tengah), kok masih awan-awan putih ya. Kemudian si Kapten memberikan pengumuman bahwa saat itu jarak pandang di bandara Sultan Mahmud Badaruddin II hanya 300an meter, tidak memadai untuk landing. Kami seperti berputar-putar saja di atas. Tiba-tiba pesawat seperti nge-gas kemudian terasa berputar arah. Saya teringat dengan isi liputan itu.

Dan benar saja. Lama kemudian si kapten kembali bersuara bahwa ia memutuskan untuk kembali ke Jakarta sambil menunggu kabar bahwa jarak pandang sudah membaik. Jadi kami kembali melewatkan waktu 50 menit kembali ke Jakarta, 30 menit mengisi avtur dan 50 menit lagi ke Palembang.

Ngarep balik ke Jakarta bisa beli Jenggot Papa *masih lhooh*, ternyata penumpang harus tetap berada di pesawat. Biasanya saya mematuhi peraturan untuk tidak menyalakan ponsel sampai berada di dalam gedung. Kali ini mana bisaaaa. Saya harus kasih kabar ke mak suri, yang tentu saja khawatir kenapa anak gadisnya semacam hilang di udara.

Lucunya, nyampe kembali di Jakarta Pramugara yang bertugas mengucapkan kalimat standar semacam “…terima kasih dan selamat jalan dan sampai bertemu lagi..”. Bikin ragu penumpang apakah akan diantar sampe Palembang.

Kata Om saya yang menjemput, Palembang dari pagi cuacanya cerah kok. Dan rumah si Om dekat bandara. Well…


Leave a comment

lupa tesis

Dulu waktu pindahan ke Jakarta, saya titip sana-sini barang seabreg-abreg hasil ngekos 9 tahun sebelum kemudian dikirim ke rumah emak di kampong. Beberapa bulan ini kepikiran mau cari dokumentasi skripsi dan tesis saya. Dan ternyata saya ngga punya! Komputer yang menemani penggarapan tulisan-tulisan itu sudah dikanibal tanpa sempat pindah data, CD tesis harusnya ada namun entah dimana. Skripsi malah ngga ada sama sekali softcopy-nya. Hardcopy pasti ada, di gudang yang saya males banget bongkar. Beberapa kali nyari barang di sono, belum pernah ketemu tuh jilidan skripsi dan tesis.

Trus ada apa ribet-ribet gini? Jadi saya lagi mikir, kalo-kalo ditanya orang dulu S2 tesisnya tentang apa (siapa yang mau nanya yaaaa?). Saya ngga inget sama sekali judulnya cobaaaa.

Apa ngga bikin curiga yang nanya, jangan-jangan saya beli gelar atau tesisnya dibikin orang lain.

Enak ajah. Saya ngga mungkin beli-beli gituan karena….sayang duitnya geeelaaaa…mending ngerjain sendiri. Dan saya sebenarnya lanjut S2 bukan karena kemauan sendiri jadi ngga butuh gelar-gelaran juga. Tampak ngga bersyukur ya, sementara orang lain pingin sekolah whew!. Kuliahnya sih asik, ngga suka aja bagian harus nulis tesis ini.

Penasaran kemarin saya google nama saya dan “tesis s2” sebagai keyword. Untungnya perpus kampus ada katalog onlen. Eeeeh tesis saya ada lho.

bangga ih *norak*

Terus saya baca dong untuk refresh.

Ngga ngertiiii…. Ini saya dulu nulis apaan ya.

Antara eforia norak nama saya ada di google dengan pusing baca tulisan sendiri, maka saya membagi perasaan saya dengan mengirim sms ke sahabat sekaligus teman kuliah dulu. Begini percakapan kami:

Si Norak (N): Mel, aku lagi cari tesis ku. Nemu di katalog onlen kampus. Trus aku baca-baca abstract-nya. Aku ngga ngertiiii, udah lupaaaa…hahahah  –> ini ketawa setress

Temennya si Norak (M): Ih rajin. Kalo aku sih males, udah selesai.

N: Wooo…bukan rajin. Just in case ditanya orang aku dulu nulis apa untuk tesis.

M: Aku juga dah lupa mbak…judulnya aja ngga inget. Padahal kalo mewawancara orang suka aku tanyain skripsinya.

N: Tuuh kan. Trus kalo kamu sendiri ditanyain gitu, neranginnya gimana?

M: Neranginnya? Sok tau aje. Palingan yang nanya juga ga ngerti. Kayak Ketua Prodi kita dulu. Tesisku sampe dibanting sama dia.

N: Hah masa sih? Maksudnya Pak I?

M: Bukan Pak I. Duh sapa sih namanya….  Pak J! Iya dibanting soale dia ngga ngerti tesisku kali. Trus pas mau tandatangan, dia suruh ikutan lomba di Medan. Udah gila kali ya tuh si bapak, wong yang nulis aja ngga ngerti apa yang ditulis.

N: Hahahaha hasyeeem… eh Pak J yang mana sih? Lupa aku.

M: Dr. J tuh yang direktur program, yang lucu dan suka garuk-garuk kepala tuh

N: (baru ngeh) Hahaha…inget inget aku

M: Inget kaan… yang jamnya kalah bagus sama sopirnya gara-gara sopirnya jual tanah trus lebih tajir dari dia hahahah…

Apa laaah ini. Ngomongin tesis kok nyambungnya ke sopir ketua program studi. Sungguh percakapan tidak ilmiah.

Agak lega karena bukan cuma saya yang nggak ngerti tulisan sendiri. Yippi yippi yeye…

Bukan berarti ngga ngerjain sendiri itu tesis dengan alasan-alasan di atas tadi. I just didn’t put my heart into it.

Pada dasarnya saya ngga suka penelitian empiris. Namun studi kasus di suatu perusahaan juga bukan pilihan saya. Maka saya pilih topik yang datanya gampang dicari, variabelnya bisa dijelaskan dengan sederhana dan literaturnya mudah dipahami oleh otak yang ngepas.

Apa semuanya jadi mulus-mulus aja?

Woooo…sampe mual-mual saya belajar aplikasi Eviews untuk menggarap statistiknya. Belum lagi kalo data yang diambil ngga tepat. Cara menginterpretasi hasil statistik juga bikin mabok.

Begitu dinyatakan lulus, secepat mungkin saya tutup buku dan melupakannya.

Peringatan: Jangan ditiru kelakuan seperti ini di kampus :).


Leave a comment

you’ll get more than overtime

Di post-post terakhir ini lagi sering saya pengen nulis sesuatu setelah membaca blog atau twitter seseorang 🙂

Nah kemaren saya liat hestek #lemburgokil yang dibikin oleh @pervertauditor (maap ya ngga mention di-twitter karena saya ngga follow) yang isinya pose-pose auditor lagi lembur. Aeeehh… langsung deh teringat bitter sweet memories sewaktu masih menjadi staf audit sebuah KAP. Penampakan meja kerjanya itu lho -yang penuh dengan kertas kerja, ordner, belitan kabel, deretan laptop- sungguh membangkitkan nostalgia (eh kayak kenal karpet motif kue lapis itu). Dan ekspresinya….uwuwuwu… familiar banget tuh pastilah pada mabok excel kan? kan?

Aaaah…masa-masa itu….

Auditor memang makhluk aneh. Sudah tau kalo lembur itu suatu kemestian sedangkan pulang tenggo adalah aib. Overtime nonstop 20 jam (pasti ada istirahat/tidur kok, di kantor tapinya. trus lanjut for next round and round and zzz….). Sering jambak rambut sendiri karena ga ketemu selisih perhitungan. Eee mukanya masih aja keliatan bahagia difoto. Makanya para mahasiswa akuntansi punya persepsi salah, yang membuat mereka ingin juga menjadi auditor.

Speaking of which…

Ex-kantor saya termasuk Big Four dan satu lokasi dengan bursa efek, sering menjadi tujuan mahasiswa akuntansi study tour. Ada waktunya para mahasiswa itu diajak keliling staff room (yang mana kubikelnya ngga menutup muka dan badan, loss aja gitu), sementara para auditor sedang berada di situ. Kadang saya punya ide untuk melakukan hal-hal ekstrem supaya para mahasiswa itu tercerahkan. Misalnya:

Angkat ordner/bantex ke atas kepala, lalu jatuhkan. atau

Balas ngeliatin para mahasiswa itu dengan pandangan kosong dan jauh sambil iris-iris nadi *tambahkan senandung lagu film horor mandarin (ngga tau judul dan liriknya)*. atau

Tiba-tiba loncat keluar jendela lantai 7 (harus dengan kekuatan penuh, karena kacanya tertutup dan tebal).

WOOYYY!!!

😀 😀 😀

Tentu saja itu hanya ada di imajinasi liar saya. Saya seperti orang normal lainnya akan menunjukkan sikap serius berkonsentrasi menatap laptop (entah apa yang dilihat, ngga harus kertas kerja kan) untuk menggambarkan suasana kerja auditor yang penuh dengan aura ke-keren-an. Sebenarnya sikap seperti itu juga untuk menyembunyikan kantung mata karena beberapa hari ngga tidur dengan pantas.

Overtime nonstop gitu, sempat mikir ngga sih “what the hell am doing heeeree…I don’t belong here yea yea yea ooooh” *lolongan Radiohead*

Bisa jadi ngga sempat mikir. Sibuk footing ciiin… Begitu masa-masa suram berlalu, sudah lupa dong keinginan resign. Apalagi terima OT dan reimburse-an kenceng, trus lanjut cuti liburan. Nah lho!

Hihihi… Ngga pait-pait melulu ah. Ada manisnya juga kok.

Semanis persahabatan Harry, Ron dan Hermione.

There are some things you can’t share without ending up liking each other, and knocking out a twelve-foot mountain troll is one of them. – The Philosopher Stone

Bermula dari menghadapi lembur bersama-sama, saya menemukan “Ron dan Hermione” saya. Teman satu tim bagaikan sodara. Dalam 24 jam, tiga perempat waktu melek dihabiskan bareng mereka. Kantor/client site adalah rumah. Barang-barang pribadi macam bantal duduk dan slipper pun bisa pindah dari kamar ke kubikel demi mendukung kenyamanan lembur. Sesuram apapun masa itu, rasanya jadi lebih ringan dengan adanya teman-teman senasib.

Saya dan 2 orang teman tim pernah kabur dari client site untuk nonton midnite, kelar nonton lanjut kerja lagi. Pernah juga supaya ngga buang waktu pulang ke rumah trus ke kantor lagi, cari hotel murah dan dekat untuk istirahat rame-rame. Perasaan sudah ga enak pas mau masuk lobby, orang di jalan dan resepsionisnya ngeliatin heran. Lobi remang-remang makin bikin curiga. Waktu liat kamar dan kamar mandinya (dengan dinding kaca tembus pandang ke tempat tidur)… sah sudah kami mencicipi pengalaman tidur di hotel jam-jaman. Hiahahahaha…aiiiiibbb…

Tapi yang konyol-konyol gitu jadi  seru untuk diceritakan lagi sambil cekikikan. Bikin kangen pengen ngumpul-ngumpul kalo sudah resign. Kebanyakan ex auditor mengakui, keakraban kayak gini jarang ditemui di lingkungan kerja lain.

Satu nih yang bikin saya sebel: belum pernah ditugaskan ke luar kota. Padahal auditor itu salah satu profesi yang peluang jalan-jalan terbuka luas. Tiga tahun lebih ngga pernah keluar dari Jakarta-Bogor-Tangerang. Pedih banget ngga sih sih sih.

Bagi saya, KAP kantor saya itu seperti ex pacar yang baik hati. Namanya pacaran, hubungan kami ada ups and downs-nya. Berantem-berantem dikit ada lah, tapi tetap sayang-sayangan juga. Akhirnya setelah hampir 4 tahun bersama kami pun berpisah jalan karena ngga disetujui orang tua. Sedih karena putus tentu dong, bukan berarti pengen balik lagi. Biar jadi kenangan aja, kami tetap bersahabat. Boohooo…kayak jawaban diplomatis seleb di impotenmen infotainment.


Leave a comment

Tentang Sahabat

Jadi pengen nulis setelah baca sebuah blog posting ini. Omong-omong tulisannya bagus. Saya senyum-senyum baca kejelesan si penulis akan tokoh Kugy si agen neptunus yang legendaris itu.

Saya tertarik dengan poin 3 dari tulisan tersebut, bahwa

Punya sahabat itu heavennya dunia. Punya sahabat dari kecil itu susah banget pertahaninnya, apalagi kalau udah kepisah jarak.

Saya jadi merenung.

Dulu saya punya teman kecil. Namanya Mimi. Kami bersekolah di TK yang sama dan kemudian berteman, simply karena rumah kami bersebrangan. Saya kecil jarang keluar rumah dan tidak pandai bergaul (sampe sekarang juga sih). Mimi adalah teman pertama setelah kakak saya yang waktu itu baru ada satu (karena kakak tertua diangkat anak dan adek belum lahir).

Saya ingat ia berlari ke rumah saya ketika dia habis dipukul oleh ayahnya karena ngga mau ngaji. Begitu sampe di rumah saya, sayanya sedang belajar ngaji dengan guru.

Saya juga ingat ia menunjukkan mainannya berupa kantung karet yang diisi air. Saya menganggapnya lucu. Ia pun memberi satu. Di rumah saya tunjukkan mainan baru itu ke nyokap. Muka nyokap keliatan kaget ngeri tapi berusaha tenang saat bertanya dapat darimana. Saat itu saya tidak terlalu memikirkan keterkejutan nyokap saking senangnya. Saya simpan baik-baik mainan itu. Keesokannya hari sepulang sekolah, mainan itu lenyap. Nyokap bilang sudah dibuang. Saya sedih.

Setelah dewasa, saya baru sadar mainan itu sebenarnya apa.

Eh hlhoooh kok malah jadi cerita aib nasional.

Mimi memang suka berbagi. Selain mainan itu, dia sering menyelipkan benda-benda kecil di kantong tas saya seperti amplop fancy dan buku saku telepon. Seperti kebanyakan anak perempuan, saya suka benda lucu dengan warna warni cerah.

Saya lupa tepatnya apa yang membuat kami berhenti akrab. Mungkin ketika kelas 5 atau 6 SD ya. Selama ini kami selalu duduk berdua di kelas. Ketika hari pertama di kelas baru, saat itu dia tidak masuk karena sakit. Seorang teman sekelas bertanya dengan siapa teman sebangku saya tahun ini. “Pasti Mimi, ya”, tebaknya. Entah motif apa, saya menjawab dengan sok aksinya, “Ah nggak kok. Masa sama Mimi terus sih, yang lain dong.” Keesokan hari dia sudah masuk kelas. Saya mengajak dia duduk bersama. “Kamu kan udah punya teman baru”, sindirnya. Oh ow. Saya terdiam. Akhirnya tahun itu saya duduk dengan teman lain, dia pun begitu. Duh pengen tutup muka kalo ingat ini.

Kami selalu bersekolah di tempat yang sama sampai SMU, namun jarang sekelas. Dia tumbuh menjadi remaja luwes dan sosialita, sedangkan saya socially awkward still. Lingkup pergaulan kami sudah berbeda. Dan kami menjadi asing. Hanya bertegur sapa biasa, tidak pernah lagi berkegiatan bersama.

Saya sendiri di setiap tingkatan kelas dan saat kuliah selalu punya geng yang berbeda. Saya dan geng akan berteman sangat akrab sepanjang tahun, kemudian menjadi tidak dekat lagi ketika sudah berpisah kelas/sekolah/daerah.

Saya tidak pernah menganggap diri sendiri sahabat yang baik, karena ignorance dan ketidakmampuan saya menjaga silaturahim. Entah kenapa, saya tetap saja dikaruniai teman-teman yang sangat baik. Some left their footprints in my heart.

Iin, teman kos di Jogja yang saya anggap adik. Ceritanya bisa temenan, waktu itu semua anak kos diminta pindah oleh ibu kos karena rumah kos akan direnovasi. Saya sedang skripsi sedangkan Iin akan mengikuti ujian akhir SMU, sama-sama butuh cepat tempat baru. Saya dapat kos duluan, terus Iin minta diajak. Di kos baru tentunya kami jadi sering bareng, padahal sebelumnya sudah ngekos selama 3 tahun ngga pernah akrab.

Iin pernah melayangkan sms protes (yang bikin saya ketampar banget banget) bahwa saya tidak punya waktu untuk mengobrol. Dan karenanya lama kelamaan dia ngga tau apa yang mau diobrolin dengan saya. Waktu itu saya sedang menjadi kacung firma yang setiap hari berada di tempat kerja selama minimal 13 jam. Pulang-pulang sudah kelelahan dan ingin sendirian. Perjuangan berkarir di Jakarta menjadikan kami berjalan sendiri-sendiri walau berada di kota yang sama.

Hmm…nulis ini jadi pengen ke Jogja for the sake nengokin Iin. Weekend cukup lah ya waktunya. Iin sekarang sudah punya sepasang putra putri yang belum pernah saya tengokin.

Okeee..tampar saya sekaraaang…

Mel, teman kuliah. Waktu dulu sekelas Mel sudah punya teman, sedangkan saya menjalin pertemanan dengan yang lain. Kemudian kami berempat menjadi sering bersama-sama termasuk untuk kerja kelompok. Saya dan Mel menjadi lebih akrab ketika sama-sama merantau ke Jakarta (sedangkan kedua teman kami kembali ke daerah masing-masing). Di Jakarta, kami tidak satu kos. Sebenarnya kos kami berada di jalan yang sama, tapi kami tidak sering bertemu. Saya sering pulang kerja malam sekali. Mel kadang-kadang juga, dan wiken ia sibuk dengan kegiatan gereja. Sekalinya ketemu kami pasti heboh cerita-cerita penting ngga penting.

Mel ini sering merasa dirinya ngga pintar. Mungkin karena ia mengukur secara akademis melalui IPK. Di luar anggapan kemampuan akademisnya sendiri yang menurut saya ngga penting setelah masuk ke dunia kerja, Mel itu wise banget. Dia sering punya sudut pandang unik yang tidak pernah terpikirkan oleh saya. Ia juga punya standar etika kepantasan purba yang biasanya hanya dimiliki mamak-mamak.

Dari Mel, saya mencontoh untuk mau repot mikirin apa yang disenengin orang yang akan dikasih kado —satu alasan kenapa saya sering males beli kado dan oleh-oleh. Mel tipe orang yang kalo sedang jalan kemana gitu, trus dia liat suatu benda dan akan berpikir “si anu pasti suka ini”. Dia punya naluri mengurus orang. Kalo saya sakit dan minta tolong dibelikan maem, bukan cuma dibelikan maem. Mel akan membalur badan saya dengan minyak angin, persis kaya mamak-mamak ngurusin anaknya. Padahal ia lebih muda dua tahun.

Setelan mukanya tuh judes banget, anehnya auranya curhat-able. Teman-teman kuliah kami dulu senang curhat ke dia. Padahal untuk beberapa orang tertentu ia sebenarnya tidak berkenan dicurhati —apalagi dari cowok berpenampilan gahar, ga pantes cyiiin— tetap aja si curhatman ngga peduli. “Kenapa gue siiih….”, keluhnya selalu. Hihihihi…

Sayangnya sekarang ia sudah pindah kota karena penugasan kantor. Waktu dia pindah, rasanya sedih banget. Gimana ngga, Mel adalah teman seperjuangan dalam usaha menaklukkan kota Jakarta. Selama ini walo sekota jarang ketemuan, paling tidak saya tau dia hanya berjarak 5 menit jalan kaki.

@vyisipie, eks teman kantor. Travel buddy saya. Usianya lebih muda tujuh tahun tapi saya sering merasa terintimidasi dengan ke-kolerik-annya. Not in bad ways, tho. Kami dekat karena dulu sering satu tim audit. Memang kalo hampir tiap hari menghabiskan minimal 13 jam bersama-sama, rekan kerja kayak keluarga, kantor kayak rumah. Sesama kacung akan membentuk semacam aliansi. Capek seneng bareng-bareng. Makanya walo sering memaki-maki ritme kerja di firma itu, kebanyakan eks karyawan-nya merasa tidak menemukan pertemanan yang sama akrabnya di kantor mereka yang baru.

Yang saya kagumi dari @vyisipie, ia tidak ragu menyatakan pendapatnya. Pernyataannya hanya diakhiri dengan titik. Kalopun kemudian keyakinannya terbukti salah atau tidak tepat, ia tidak malu. Saya sendiri sering merasa tidak yakin, malu kalo yang saya omongkan salah. Biasanya saya akan mengembel-embeli pernyataan saya dengan berkata “kalo ngga salah lho ya…” untuk mengantisipasi agar tidak disalahkan.

Ia tidak canggung berbicara dengan orang yang lebih tua atau yang lebih superior, sesuatu yang saya amat sangat payah. Percaya diri dan berani. Cerdas dan kritis. Ia hebat dalam mengorganisir, berpikir cepat dan menguasai keadaan. Semua kualitas yang saya inginkan untuk menjadi karakter saya. Uniknya dia punya cerita hidup seperti sinetron yang dijalaninya dengan kuat hati.

Sekarang kami tidak lagi sekantor. Dalam kesempatan yang amat jarang, kami janjian bertemu tanpa agenda apapun kecuali hanya untuk mengobrol. Nongkrong di sebuah resto sampe menjelang tutup.

Sodari-sodari saya, yang semuanya punya panggilan khusus dari saya: Sujule, Kakachu dan Nti Surenti.

Boleh dibilang mereka lah sahabat masa kecil saya, terutama Kakachu. Umumnya seorang kakak yang punya adik berjenis kelamin sama, di masa kanak-kanak dan remajanya sering ogah dibuntutin sang adik. Tidak bagi Kakachu. Dia senang mengikutsertakan saya ketika bersama teman-temannya. Kami sering pulang kuliah bergandengan tangan seperti anak TK —sesuatu yang dianggap lucu dan aneh oleh teman-teman kami.

Katanya persahabatan pun bisa jadi posesif dan monogami. Saya ingat pernah merasa sebel sampe nangis karena Kakachu sering pergi dengan calon suaminya. Padahal saat itu saya punya pacar lho (huaaaa aib ini mah), yang artinya saya bukannya kesepian banget. Tetap aja beda, maunya ngobrol dengan Kakachu.

Saya dan sodari-sodari jarang sekali bertemu karena sekarang tinggal berjauhan dan masing-masing sibuk dengan keluarga. Telpon dan BBM-an juga ngga tiap hari. Namun tiap ketemu kami akan cekikikan membahas hal ngga penting. Kami berbagi aib dan rahasia yang ngga akan diceritakan ke orang lain. Saat bersama mereka, saya senang bisa menunjukkan true color. Walopun bilangnya socially awkward, saya ini badut keluarga. Ga segan bertingkah aneh dan memalukan. Kalo di luaran kan suka jaim gitu deh.

Saya cocok dengan Sujule dalam hal berbagi hobi yang sama, yaitu mengoleksi novel.

Dengan Kakachu, saya bertumbuh bersama (karena jarak lahir yang hanya satu tahun), bahkan kami selalu satu sekolah dari SD sampai kuliah di jurusan yang sama.

Dengan Nti Surenti, saya berbagi obrolan ngaco dan pikiran-pikiran gila. Dia lah orang pertama yang akan saya cari untuk dijadikan tong sampah. Karena umurnya lebih muda, lebih enak ngomel-ngomel sama dia hahha..

Kalo mengutip pepatah, saya ini termasuk orang yang “jauh di mata jauh di hati”. Kalo udah berjauhan, jadi jarang ketemu dan jarang kontak dengan sahabat. Makanya saya kagum sama orang yang awet banget dengan sahabatnya.

Saya mengenal dua orang yang sampai sekarang masih akrab dengan sahabat masa kecilnya. Adek saya dan temannya seperti halnya saya dan Mimi. Berteman dari TK dan selalu satu sekolah sampai SMU. Rumahnya hanya berselang dua rumah. Bedanya mereka masih berkomunikasi lancar. Saya memperhatikan dari masa kanak-kanak, bersekolah, dan sekarang menjadi ibu-ibu muda. Teman datang dan pergi ataupun tinggal, baik teman mutual atau teman masing-masing, mereka berdua tetap sahabat akrab. Oiya mereka berbagi bulan lahir yang sama hanya berbeda empat hari.

Satu lagi adalah teman SMU saya, Sisil. Sebenarnya saya tidak benar-benar mengenalnya, hanya tau nama saja. Saya follow twitternya dan tau (euuuh saya terdengar seperti stalker ngga sih), Sisil masih memiliki barang langka itu, sahabat masa kecilnya. Walopun Sisil (menurut pengakuannya sendiri) itu keliatannya judes dan tipe MYOB (mind your own business), mirip saya tapi dalam bentuk yang classy dan smart, ia luar biasa baik dan perhatian terhadap sahabatnya itu.

Ah keren banget mereka.


Leave a comment

Agustus dan Lebaran

Dua hal yang berkaitan dengan bokap.

Agustus adalah bulan lahir bokap. Lebaran tahun ini di bulan Agustus. Biasanya lebaran itu jadi momen silaturahim.

Di bulan-bulan terakhir hidupnya, silaturahim lah yang banyak bokap contohkan. Sesuatu yang belum berhasil saya teladani.

Lebaran 2009, beliau merencanakan untuk mengunjungi keluarga besannya. Apa istimewanya? Kalo bagi saya itu tidak biasa. Berapa banyak orang yang akan repot-repot mengunjungi besan yang tinggal berbeda pulau dan di daerah mblusuk?

Jadilah kami ber-14 on the road Jawa Tengah dengan bis kecil di hari lebaran kedua. Sumringah banget keluarga yang dikunjungi. Selain acara lamaran dan pernikahan anak-anak mereka, kapan lagi sih kedua belah pihak keluarga akan bertemu? Nggak akan. Tahun itu adalah lebaran terakhir bersama bokap.

Sehari sebelum meninggal, ia mendatangi semua bank yang ada di kota kecil tersebut untuk menanyakan suatu produk. Semua CS mengingat beliau.

Pagi harinya bokap masih sempat mengantarkan mama ke dusun. Ketika berpamitan, bokap melambaikan tangan kepada keluarga-keluarga yang dikunjungi. Siapa nyangka itulah saat terakhir mereka melihat beliau dalam keadaan hidup.

Berlawanan dengan kesukaannya berkunjung dan mengundang tamu ke rumah, bokap sebenarnya bukan orang yang gaul. Malah cenderung penyendiri. Biasanya jika ada acara kumpul-kumpul keluarga, ia akan berada di tengah keramaian itu paling lama setengah jam untuk berbasa-basi ala kadar. Kemudian melipir membiarkan mama mengobrol sana sini. Beberapa saat kemudian, kami akan menemukan beliau di pojokan terangguk-angguk mengantuk.

Hari ini hari lahirnya yang ke-66. Sudah lebaran tahun ketiga tanpa bokap.


Leave a comment

kreatiflah dalam wawancara kerja

Maaf mengecewakan. Tapi ini bukan postingan tips-tips wawancara kerja ya.

Sepenggal cerita pada kata pengantar dalam buku bergenre personal note “Fresh Graduate Boss” oleh Margareta Astaman mengenai seorang kenalannya yang menjawab pertanyaan pewawancara kerja “apa yang akan anda lakukan dalam 10 tahun mendatang”. Pertanyaan standar  yang dijawab dengan unik (yang menurut sang penulis, ia pun tidak terpikir untuk menjawab demikian). Jawaban tersebut mengantarkannya menduduki salah satu posisi director di sebuah perusahaan multinasional dalam usia 27 tahun.

Dan juga hampir mengantarkan saya ke kasir untuk membeli buku tersebut sebelum saya insaf bahwa tak lama lagi akan ada ajang pameran buku, yang tentu saja bertaburan diskon. Maka saya bersabar menjulurkan lidah.

Jadi teringat besties yang mendapat pertanyaan “bagaimana hubunganmu dengan perusahaan terdahulu” dari pewawancara. Besties memang tidak menjadi manajer seperti halnya cerita di atas (karena memang bukan posisi itu yang mereka cari). Namun ia berhasil memesona pewawancara dan akhirnya menjadi karyawan di sebuah perusahaan elektronik milik Korea yang berkesempatan training ke home office di sono.

Kira-kira  begini jawabannya:

“Hubungan kami kayak pacaran. Saya suka bekerja di sana dan merasa sayang meninggalkannya. Saya senang dengan pekerjaan saya dan sudah sangat paham cara kerjanya. Rekan kerja kayak keluarga sendiri. Kami kenal masing-masing anggota keluarga rekan kerja dan saling perhatian secara personal.

Tapi sesayang-sayangnya sama pacar, saya ngga suka digantungin. Tiga tahun bekerja, status saya masih ngga jelas. Saya mau ada kepastian, ngga bisa begini terus.”

Aeeeeh si besties bisa ajaaaa… *jawil dagu*

Mendengar cerita ini, saya ngakak kenceng. Sekaligus kagum, kok bisa sih dia kepikiran jawaban bermodus curhat gini sik. Menurut saya, ini brilian: mencari yang lebih baik tanpa menjelek-jelekkan perusahaan yang terdahulu. Ngga perlu dia mengeluhkan bahwa di kantornya tidak ada tunjangan medis dan jamsostek. Gajian pun seringnya dibayar pake yen: yen ono duite (kalo ada duitnya) dengan tanggal tak tentu.

Tapi pertanyaan macam ini ngga pernah saya dengar di wawancara kerja manapun. Mungkin semacam jenis baru untuk “alasan resign dari kantor lama”. Canggih ih HRD-nya.

Oiya, saat ini dalam tempo kurang dari 1 tahun, si besties sudah dipercaya menduduki jabatan Kepala Admin di cabang baru.


Leave a comment

cool dad is cool

Apa persamaan Matt Damon dan Hugh Jackman?

….

Mereka keren sekali berperan sebagai single father kyaaaa…..

Errr… saya memang lemah terhadap figur bokap keren 🙂

Bahkan di film yang ngga oke macam War of the Worlds (alien-nya anonim)  dan Twilight (cheesy), peran Tom Cruise dan Bill Burke lah yang membuat saya betah nonton.

Ayah-ayah ini tidak selalu mampu menangani masalah, tidak juga selalu berteladan baik, kaku dengan anak (ingat bagaimana Charlie Swan mencoba membicarakan pendidikan seks dengan Bella?). But they do their best.

Favorit saya adalah Atticus Finch, karakter fiksi dalam novel klasik To Kill a Mockingbird. Ayah bijaksana yang mendengarkan cerita dari kedua anaknya yang berselisih sebelum menjatuhkan hukuman (mungkin karena berprofesi pengacara). Ia mengijinkan anak-anaknya untuk mengkritik jika ia salah. Ia membela seorang negro yang dituduh melakukan perkosaan terhadap kulit putih (saat itu isu rasisme masih kental), agar ia bisa menatap mata anaknya.

Dan ini favorite of favorite saya…

lucuuuuk… 😀

*father-complex detected*