secangkir teh tarik

…ya untuk diminum, apa lagi. mau?


Leave a comment

Nongton Habibie & Ainun

Sebelum tayang, terbaca di twitter, konon cucu Habibie pun mempertanyakan BCL yang menurutnya tidak mewakili sosok Ainun. Waktu saya liat trailernya juga asa malesin.

Jadi sebenarnya saya tuh suka nonton film Indonesia di bioskop, kebanyakan adaptasi novel yang pernah saya baca. Nah bukunya Pak Habibie ini ga kelar-kelar dibaca. Secara ga suka baca non-fiksi, dulu pas beli juga impulsif. Cuma gara-gara takjub liat antrian panjang pas ke Gramed Kelapa Gading, trus langsung nyabet satu copy dan ikutan antri. Padahal saya bukan penggemar acara tanda tangan dan jumpa penulis.

Pokoe saya ga minat nongton, apalagi terpengaruh opini di twitter sebelum film tayang.

Namun karena opini di twitter pula yang bilang filmnya tear-jerking, maka saya memutuskan nongton. Pengen juga liat yang bikin mewek kejer apaan.

Sudah hampir seminggu sejak tayang di bioskop, di hari kerja pula, studio 21 penuh.

Highlight-nya dari film ini adalah walopun ngga punya mata sebunder Pak Habibie, Reza impersonated him perfectly, W.O.W. Ini tentu saja sepanjang ingatan yang pernah saya liat di tipi, bukan karena mengenal Pak Habibie secara pribadi. Perhatiin deh cara ngomong (yang aksennya lucu itu), terus gesture tangannya pada saat menerangkan sesuatu, dan cara ia menatap orang lekat-lekat melalui atas kacamatanya. Miriiiiiip….. :mrgreen:

Kalo BCL gimana? Bukannya ngga bagus ya, tapi saya ngga ingat Bu Ainun secara khas. Tapi saya suka banget penggambaran mereka yang bertumbuh bersama. Awww.. ngembeng beneran deh.

Bagi saya yang mengharukan itu pada saat Pak Habibie nengokin pabrik IPTN yang sudah tidak beroperasi, trus bilang “…bangsa ini sebenarnya bisa maju, tapi mereka tidak pernah percaya.” Iiih… saya kok ngerasa patah hati banget ya. Kebayang si Bapak berusaha memberikan sumbangsih kepandaiannya untuk memajukan bangsa, kita terlalu inferior untuk mempercayai sebuah impian. Merasa ngga dipercaya itu rasanya gimana ya. Sepiiii gitu.. ­čśŽ *terlalu serius*

Kemudian perkara jajak pendapat Timtim. Saya ngaku sebenarnya ignorance waktu itu, namun saya yakin Pak Habibie sudah melewati pertimbangan yang berat, sampai pada akhirnya Timtim dilepas.

Sepanjang nonton, ada juga kepikiran hal-hal ngga penting. Eh kok mau orang-orang Jerman ini diajak main pelem Indonesia. Eh gimana ya bikin setting luar negeri tempo dulu. Brapa lama tuh Reza belajar Bahasa Jerman ­čśÇ

Bagi yang sudah nongton, pasti tau iklannya cukup gengges. Bahkan sampe ada dialog segala, walo ga nyebut nama produk. Ya sudahlah, secara keseluruhan film ini -dengan iklan tadi- sudah bagus bener.

Eh ada lagi yang gengges nih duduk di sebelah saya. Celetukan absurd ngga sengaja sering terdengar.

+ Abnormal tu apa?

– Di atas normal, kali

+ Dia itu jadi menteri apa ya?

– Kayanya Menteri Penerbangan

+ Bank Mata? Oooh mungkin maksudnya Bank Perm4t4

Hmmmpphhh….

Ya abiiiis ga bisa bikin review, komenin yang ngga penting aja lah ­čÖé


Leave a comment

Apakah Mama Meridhaiku? : Catatan Hati Setelah Menonton “Ummi Aminah”

Weitzz, saya bukan mau ripiu ini pilem. Secara saya orangnya susah menceritakan kembali apalagi menganalisis ini itu. Biar penonton lain saja yang membuatnya.

Saya hanya ingin menceritakan adegan yang paling membuat air mata saya langsung moncrot crot, yaituuuu…adegan Zarika (Paramitha Rusady) ketahuan selingkuh. Saya sudah mulai terbawa suasana ketika Ummi Aminah menumpahkan kekecewaannya sepenuh perasaan seorang ibu diakhiri dengan ratapan menyayat “..Ummi tidak ridha dunia akhirat”. Dan saat Zarika yang sangat tersentak dengan pipi bersimbah airmata dan tubuh bergetar (saya sungguh terkesan dengan akting Paramitha di adegan ini) “Zarika tidak mau Ummi tidak ridha…” (maapkan saya lupa┬ákalimat tepatnya).

Saya tersadar. Saya belum pernah bertanya apakah mama meridhai saya. Untuk apa yang saya lakukan. Yang pernah saya katakan. Ada saat-saat saya pergi berlalu jika mama mulai mengomel. Atau menjauhkan gagang telepon dengan hati tertekan jika mama mulai dramatis. Atau berkata menyakitkan sekedar menyetop curhat mama.

***

Ingatan saya melayang ke suatu senja di Roma. Saya dengan kesal meninggalkan mama sendirian di pinggiran fountain salah satu piazza. Masalah sepele: sementara rombongan berbelanja, saya ingin jalan-jalan sedangkan mama tidak berani kemana-mana hanya berdua saja tanpa pemandu kami. Sejujurnya saya keder menapaki lorong-lorong kecil┬áyang tampak sepi, tapi untuk membuktikan entah apa, saya nekat saja. Entah apa yang saya cari. Sempat menikmati pemandangan etalase toko pun tidak. Saya hanya berkonsentrasi pada jalanan agar tidak tersesat sambil memikirkan pertengkaran kami. Saya kembali ke piazza mendapati mama masih duduk di tempat saya meninggalkannya. Tatapan mama sangat terluka dan khawatir. Saya pura-pura tidak melihat untuk menutupi rasa bersalah. Saya tidak meminta maaf dan hanya menjawab kasual “ga ada yang bagus” ketika mama bertanya apakah saya mendapatkan yang saya cari. Saya mengkompensasi rasa bersalah saya dengan bersikap biasa (tidak merajuk atau mendiamkan) dan mengobrol bahkan gantian berfoto-foto. Situasinya seakan-akan saya yang semula marah karena dilarang-larang kemudian menjadi tidak marah. Seakan-akan mama yang bersalah karena melarang-larang dan saya menunjukkan kebesaran hati saya dengan tidak ngambeg. Begitulah caranya konflik sore itu (seakan-akan┬álagi) dipecahkan.

Hal yang sama berulang di Madinah. Saya sebal karena  sudah jauh-jauh dan mahal ke sana tapi shalatnya di hotel aja. Dengan merengut sadis saya memang menuruti keinginan mama untuk tidak shalat di mesjid, namun berkeras tetap keluar malam itu untuk memotret dan kembali 10 menit kemudian. Jangan ditanya betapa ketar-ketirnya saya keluar malam sendirian tanpa mahrom, takut digeret mutawa. Hati saya tetap enggan mengalah.

***

Jika mama tidak ridha, saya yakin, segala hal yang buruk bisa saja menimpa saya. Namun sepanjang yang saya pahami, tak ada sedetik pun waktu luang mama tersia tanpa bibirnya melantunkan doa untuk keselamatan semua anak dan cucunya.

Dan saya menerimanya begitu saja. Take it for granted. Tanpa merasa perlu mengucapkan terimakasih. Tanpa hati merasa terganggu apakah mama ridha atau tidak. Bahkan tanpa merasa membutuhkan ridha itu sendiri, selama saya merasa menjadi anak yang tidak memalukan keluarga (walaupun juga tidak membanggakan).

Segala yang gratis biasanya jarang mendapatkan penghargaan sepantasnya.

Menonton adegan di film Ummi Aminah itu sungguh membuat saya gemetar. Seorang anak -walaupun sudah dewasa tetaplah seorang anak- begitu terguncang, histeris dan menjerit memilukan, memohon agar ibunya mencabut ketidakridhaannya. Sangat sangat khawatir dan ketakutan.

Dilatarbelakangi ratapan Paramitha, hati saya terus menggemakan tanya. Akankah saya sedemikian khawatir jika mama berucap demikian? Bagaimana hidup saya selama ini dan kedepannya nanti jika mama tidak ridha (dan karenanya Allah pun tak ridha) kepada saya?



Leave a comment

Tertawa Akhir Tahun

the tix to laugh

Ahem. Ceritanya ikut-ikutan tren nih? Gara-gara follow @pandji dan @radityadika, saya jadi mengikuti perkembangan Standup Indo sejak pertengahan tahun lalu. Termasuk nonton smua video yang diupload di youtube. Terus saya mulai ngeracunin teman untuk nonton juga. Mulanya cuma penikmat youtube. Karena pernah baca ramenya nonton live di sini, terus pengen juga nontooooonn…

Pengalaman saya pertama kali menonton live adalah acara Provocative Proactive @hardrockfm di Brew House Senayan. Ternyata bener nonton live dengan nonton di TV or di youtube itu beda. Lebih bisa nangkep kelucuannya.

Maka ketika @pandji mengumumkan show tunggalnya, saya segera book tiket onlen yang segera habis dalam 2 jam saja. Proses konfirmasi pembayaran agak bikin deg-degan sampe 2 hari berkat kesotoyan saya.
Aslik saya ga sabar nunggu tgl 28 Desember tiba, walo ga dapet teman nonton.

Saya beruntung transportasi antara kantor di Sudirman ke venue di Kuningan mudah. Jam 6 saya sudah tiba dan mendapati antrian mayan panjang. Walo sudah beli onlen, telat menukarkan bukti pembayaran sampai batas waktu maka tiket akan dijual ke peminat lain. Kabarnya ada yang sudah antri dari jam 2 siang untuk mendapatkan tiket OTS. Itu kaya apa ishomanya ya.
Seperti yang dikatakan oleh followernya, @pandji memulai pertunjukan tepat waktu. Dibuka dengan 5 opener @notaslimboy, @ernestprakarsa, @asepsuaji, @ponakannyaom dan @luqmanbhq.

Sengaja saya tidak menonton open-mic yang jadi ajang latihan @pandji. Selain tempat-tempatnya malesin untuk menjangkau, saya pengen waktu nonton nanti ngga basi, agak susah ketawa mendengar joke yang sama diulang lagi. Dan memang sesuai harapan lah.

Bit-bit @pandji tidak hanya lucu tapi juga bermuatan informasi. Seperti bit awal tentang gedung yang menjadi venue, yaitu Pusat Perfilman Usmar Ismail yang kemudian di-bridging ke bit mengenai ketua PARFI Aa Gatot.

Untuk mendukung penampilan, @pandji benar-benar total dalam melakukan act out. Misalnya bit-nya tentang Curtis Johnson dan mall. Senang rasanya menyaksikan orang yang tidak takut bertingkah konyol. Konyol itu bagi saya menunjukkan sisi manusia-nya manusia. Suatu waktu saya terlalu sibuk menyetel kamera (kamera otomatis aja pake disetel :p ), jadinya malah ketinggalan adegan shuffling-nya yang memancing gelak itu.

Tidak lengkap seorang @pandji tanpa curiosity yang kemudian menggerakkannya untuk mencari jawaban dan mengkritik jika dirasa itu menggelisahkan. Isu separatis yang berat dikemas dengan joke cerdas dan analogi sehingga menjadi ringan dan dapat dimengerti penonton yang mencari hiburan bukannya ingin diceramahi.

Yang saya juga suka, orang yang bisa melihat hal-hal lucu dari kemalangannya. Demikian juga @pandji ketika bercerita tentang rumahnya yang kemalingan (duh bukannya mau nyukurin rumah orang kemalingan ya).

Sehari-hari kalo kita mengobrol itu bisa loncat-loncat dari satu topik ke topik lain.  @pandji melakukan standup persis seperti mengobrol dengan bridging yang halus tanpa terasa berpindah bit. Ini menunjukkan kematangannya sebagai komika hasil latihan yang tidak kenal bosan. Jangan lupakan callback berlapis-nya yang notable itu.

1 jam tidak terasa @pandji terus-terusan berbicara dan bergerak. Sungguh stamina yang luar biasa mengingat masih ada pertunjukan kedua.

Rasanya keren banget menjadi saksi standup spesial pertama di Indonesia dari komika sekelas @pandji. Seorang teman sebelumnya membelalakkan mata mendengar harga yang harus saya bayar untuk menonton @pandji. Saya bisa bilang it worths every penny.


Leave a comment

House of Chandra

Walopun sudah basi, saya teteup mau nulis ini. Dan biarpun foto dan keterangan lengkap bisa dilihat di sini, saya teteup pengen tulis di sini *ngeyel*
Oiya foto-fotonya ga nipu lho. Beneran.

Pertengahan tahun lalu, saya bersama 6 teman main ke Jogja dan menyewa sebuah rumah cantik bernama House of Chandra. Cantik karena rumahnya dicat pink :D.

Sebelumnya saran saya, pastikan bahwa nomor dan bloknya benar karena ada rumah bernomor sama di blok yg berbeda. Dan karenanya kami sempat salah masuk rumah padahal udah nurunin bagasi dari taxi.

Kami memilih untuk menyewa rumah karena dengan sewa per hari (pada waktu itu) 600k lebih hemat untuk 7 orang dengan fasilitas:

  1. 3 kamar tidur yg bisa mengakomodasi 6 orang dengan nyaman sampe 8 orang yang bertoleransi atas ketidaknyamanan. 1 kamar utama furnished + AC, 1 kamar bed saja + AC, dan 1 kamar cadangan dengan fan. Plus ada sofa bed di living room yang juga bisa dipake tidur untuk 2 orang.
  2. Living room dengan TV lupa brapa channel. Tapi ga tlalu penting karena yang penting ngumpul bareng kan.
  3. Ruang tamu, juga bisa buat rame-rame ngobrol.
  4. Car port muat untuk 1 mobil.
  5. 2 Kamar mandi. Kamar mandi utamanya gede, ada dry space yang nyaman bagi yang suka rempong ganti baju, dan air panas.
  6. Dapur yang nyambung dengan ruang makan open air yg memberikan kesan luas, karena sebenarnya lahan rumah tersebut tidak luas. Tersedia alat masak, alat makan dan air galon. Yang mau masak-masak cantik bisa loh.
  7. Sarapan standar: seteko teh manis/kopi, satu pak roti tawar, margarin dan selai.
  8. Asisten yang tugasnya beres-beres, siapin sarapan dan jaga rumah di siang hari. Bisa juga diminta untuk cuci baju dan beli sarapan selain yang disediakan. Jangan lupa kasi tip ya sebagai tanda trimakasih, karena itu bukan tugas si asisten. Si asisten ini ga nginap di rumah itu, jadi ga berasa sungkan kek diawasi.
  9. Ada yang bertugas jaga keamanan yang aktif nyamperin ke rumah dan bilang kalo ada apa-apa bisa mhubungi beliau.

Menyewa rumah seperti ini cocok untuk rombongan yang punya acara seperti perkawinan atau wisuda. Atau yang hanya berlibur seperti kami. Lebih hemat dan lebih homey. Bisa rame-rame ngumpul, daripada ngamar melulu. Rumahnya bersih dan terawat, mulai dari halaman depan sampe ruang makan di belakang. Plafon rumah tinggi, jadi udara di dalam rumah cukup sejuk. Kalo tiba di Jogja pagi hari dan sebelumnya ga ada tamu, bisa early check-in atau nitip barang. Lokasinya strategis dekat dengan pusat kota, gampang angkotnya, banyak tempat makan (karena dekat kampus) dan mini market 24 jam yang bisa dicapai dengan berjalan kaki. Jalan malem hari juga aman, siapa tau lagi galau. Semua informasi di link yang saya berikan di atas cukup lengkap. Baik pemilik maupun asisten sangat membantu dalam memberi penjelasan. Manfaatkan juga harga diskonnya. Lumayan banget loh.

Yuk yuk ­čÖé