secangkir teh tarik

…ya untuk diminum, apa lagi. mau?

yang asem-asem lucu hari ini

Leave a comment

Saya kira bangun jam setengah tiga pagi akan memberi waktu yang cukup untuk mengejar pesawat jam setengah enam.

Ternyata mefet.

Saya kira ngga sempat beli sus jenggot papa untuk sarapan.

Harusnya bisa.

Saya pikir saya sudah akan berada di Palembang paling lambat jam tujuh.

Tentu saja pikiran yang naif.

Bukan. bukan karena delayed. atau sudah boarding tapi di runaway disetrap setengah jam *pernah*

***

Saya pernah baca liputan mengenai ATC (Air Traffic Control) di majalah Tempo paska musibah di Gunung Salak.

Seorang pilot bercerita bahwa pernah pesawat yang sedang dikapteninya tidak bisa mendarat di Bandara Soetta karena diserobot oleh maskapai lain, sehingga ia terpaksa kembali ke Palembang.

Ngga mengira hal yang mirip akan terjadi dengan pesawat singa udara yang saya tumpangi.

Normalnya penerbangan Jakarta-Palembang memakan waktu 50-55 menit.

Pagi itu saya melanjutkan tidur di pesawat. Agak terbangun ketika terdengar suara Kapten memberikan aba-aba landing position. Namun sampe beberapa saat tidak diikuti gerakan pesawat menurun. Setengah mengantuk saya melirik jendela (saya duduk di tengah), kok masih awan-awan putih ya. Kemudian si Kapten memberikan pengumuman bahwa saat itu jarak pandang di bandara Sultan Mahmud Badaruddin II hanya 300an meter, tidak memadai untuk landing. Kami seperti berputar-putar saja di atas. Tiba-tiba pesawat seperti nge-gas kemudian terasa berputar arah. Saya teringat dengan isi liputan itu.

Dan benar saja. Lama kemudian si kapten kembali bersuara bahwa ia memutuskan untuk kembali ke Jakarta sambil menunggu kabar bahwa jarak pandang sudah membaik. Jadi kami kembali melewatkan waktu 50 menit kembali ke Jakarta, 30 menit mengisi avtur dan 50 menit lagi ke Palembang.

Ngarep balik ke Jakarta bisa beli Jenggot Papa *masih lhooh*, ternyata penumpang harus tetap berada di pesawat. Biasanya saya mematuhi peraturan untuk tidak menyalakan ponsel sampai berada di dalam gedung. Kali ini mana bisaaaa. Saya harus kasih kabar ke mak suri, yang tentu saja khawatir kenapa anak gadisnya semacam hilang di udara.

Lucunya, nyampe kembali di Jakarta Pramugara yang bertugas mengucapkan kalimat standar semacam “…terima kasih dan selamat jalan dan sampai bertemu lagi..”. Bikin ragu penumpang apakah akan diantar sampe Palembang.

Kata Om saya yang menjemput, Palembang dari pagi cuacanya cerah kok. Dan rumah si Om dekat bandara. Well…

Author: secangkir teh tarik

a loner, wandering mind.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s